(21+) Hampir Tidak Jadi

1157 Kata
“Ouh … rasanya sedikit pedas. Tenggorokanku terbakar.” Vallery mengusap leher sambil meringis. “Itu sebab kamu tidak terbiasa,” ucap Hadley mengambil alih gelas kosong dari tangan Vallery. "Mau lagi?" Tawarnya. "Tidak-tidak. Sudah cukup. Vallery menggeleng lantas tertawa. Hadley menikmatinya; melihat takjub Vallery yang ceria dengan gelak kecil memperlihatkan struktur gigi rapi yang putih. Hadley meneguk ludah tatkala pandangannya jatuh ke d**a Vallery. Wanita di hadapannya itu sedikit membungkuk saat tawa masih menyisa hingga bagian sensitifnya tentu terekspos. Vallery saat ini mengenakan pakaian jenis bodycon dress mini yang sexy. Dress warna navy; dengan kerah lebar dan memiliki aksen renda yang menampilkan lekuk tubuh indah Vallery termasuk bagian dadanya yang lumayan berisi. Serta-merta Hadley mendekat. Meraih kedua pundak Vallery. Satu tangan Hadley berpindah ke dagu istrinya itu. Vallery mengangkat pandangan yang langsung bertemu dengan milik Hadley. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, seperti ada banyak ledakan emosi di dalam rongga dadanya. Dalam satu gerakan bibir mereka bertemu. Vallery mengalungkan tangan dan mengusap tengkuk Hadley seakan takut kehilangan moment. Alas kaki mereka beradu suara manakala keduanya saling menuntun untuk sampai di tepi ranjang. Tempat tidur king size yang mewah di kamar Hadley baru pertama kali Vallery lihat. Hadley sudah membaringkan tubuh Vallery di sana. Dia sendiri bangkit ketika pagutan terlepas. Hampir membuka gasper yang melilit pinggang setelah semua kancing kemeja tanggal dibuka Vallery kalau saja raungan ponsel tidak mengganggu. Hadley mendengkus keras. Siapa yang mengganggunya malam-malam? “Sorry,” ucapnya pada Vallery seraya mengecup singkat bibir wanita itu sebelum mendial ikon terima panggilan. “It’s okay!” Vallery mengembangkan senyumnya. Menatap tubuh Hadley menjauh, vallery tidak tahu dari mana asal keberaniannya barusan hingga tangannya bisa dengan cekatan membuka kancing kemeja Hadley. Naluri alamiah wanita dewasa yang dicumbu mungkin seperti itu, pikir Vallery. Tapi, saat menyadarinya ada rasa malu yang hinggap di diri Vallery. “Oh, God!” Dia kembali duduk di tepian ranjang. Sudah berdiri mempertimbangkan untuk pergi saja sebab Hadley malah sibuk mengumpat di telepon. Vallery hanya bisa melihat punggung suaminya itu dari kejauhan tanpa mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Langkah Vallery baru mengayun tiga kali saat Hadley memeluknya dari belakang. “Mau ke mana, Sayang?” “Ke-ke kamarku. Kupikir kamu sibuk dan aku sebaiknya … .” Kalimat Vallery menggantung tatkala Hadley memegang pundak dan membalik tubuhnya. Mereka kembali berhadapan. “Sebaiknya apa?” Hadley mengangkat alis. “Sebaiknya aku pergi ke kamarku.” “No!” balas Hadley cepat. “Kamarmu di sini.” “Heum?” “Sudah sepantasnya begitu, bukan?” “Ya … .” Vallery tersenyum ragu. “Ya, aku yang salah, mengurungmu di kamar lain. Kalau kamu mau … tinggal lah di sini. Supaya aku bisa melihatmu setiap saat.” “Ouh, ya, ampun.” Vallery berdecak hingga membuat Hadley menegakkan tubuh. “Aku masih belum percaya ini. Hadley yang dingin sekarang sehangat namanya.” Hadley mengerut dahi; tidak memahami maksud Vallery. “Ya … Hadley itu artinya padang rumput yang hangat. Tapi, kau malah cosplay jadi bongkahan es.” Vallery terkekeh. “Aku hangat sekarang? Benarkah?” “Setidaknya itu yang aku rasakan dan yang aku lihat di matamu.” Hadley tersenyum tipis dan kembali menyentuh dagu Vallery. Kegiatan yang sebelumnya terganggu akibat telepon dari seseorang yang mengabari perihal Maura, kembali dimulai. Kali ini, Hadley melakukannya lebih brutal. Sejurus kemudian saat tangannya sudah menggerilya di paha mulus Vallery, dia berbisik, “Tidak-tidak. Kemarin kamu berdarah saat melakukan ini. Pasti masih sakit, bukan?” Vallery menahan tubuh Hadley yang mengambil berjarak. Ada rasa tidak rela pria itu menghentikan tindakannya. “Sudah sejauh ini kamu mau kita berhenti.” Mata Vallery berkaca-kaca seperti menggambarkan kekecewaan. “Tapi nanti sakit lagi.” “Tidak akan. Lakukan dengan hati-hati. Sungguh!” Vallery meyakinkan. “Tapi, kalau kamu memang tidak mau, ya, sudah. Tidak masalah. Aku pergi saja.” Kali ini giliran Hadley yang menahan Vallery bangkit dari atas tempat tidur. “Mana bisa aku menolak.” *** Keesokan paginya Vallery terbangun sendiri tanpa Hadley di sisinya. tubuh polosnya memunguti pakaian yang berserak di lantai. Tapi belum sempat kembali memakainya, mata Vallery tertuju pada kertas di atas nakas. 'Aku pergi sebentar, ya. Kamu nanti mandi saja di sini. Pakaianmu sudah kuambilkan, ada di sofa. Sarapanmu juga, kusimpan di meja.' Vallery menoleh ke tempat yang Hadley maksud. Memang benar semua yang dikatakannya ada di sana. Sampai sarapan pun Hadley siapkan? Senyum Vallery mengembang lebar. "Di sini tidak ada CCTV, bukan?" Dia mendongak; menelisik setiap sudut. Takut-takut ada kamera pengawas. Bukan hanya karena keadaannya saat ini, tapi juga kejadian semalam. Tidak lucu kalau sampai benar ada kamera. Tungkai mengayun ke arah bilik mandi. Vallery menikmati setiap sentuhan air persis seperti dia menikmati sentuhan Hadley. Mata Vallery memejam saat bayangan Hadley terus mengisi kepalanya. Dia menggosok tubuh. Beberapa tanda 'kepemilikan' yang Hadley buat, Vallery dapati di setiap titik. "Apa yang salah dengan jatuh cinta?" gumam Vallery. "Apa karena orangnya yang salah? Aku akui aku jatuh hati pada Hadley, dia suamiku. Aku tidak salah, bukan? Ayah bilang ini tidak salah. Tapi, Adric ... menyebutku bodoh." Butuh setidaknya 30 menit untuk Vallery selasai dengan ritual di kamar mandi. Lama bukan karena mandinya, tapi sebab Vallery malah sibuk melamun; mengingat moment yang hampir seperti mimpi. Tapi, apa Hadley juga mencintai Vallery? Bahkan ungkapan itu belum pernah Vallery terima. Menghela napas pendek demi menetralkan degup jantung, Vallery keluar masih mengenakan bathrobe yang tersedia di area wastafel. Sarapan sudah menunggu dan perut Vallery terasa lapar. Hingga tanpa mengenakan pakaian lebih dulu, wanita itu sudah menyambar roti sandwich dan segelas fresh milk. Hadley datang tepat saat Vallery sedang menikmati sarapan. Dia melangkah tegap hingga sampai di sisi Vallery. Hadley duduk di lengan sofa, di sisi kiri istrinya. "Heum ... kamu baru selesai mandi?" Hadley menghidu aroma shampo, mendaratkan kecupan di dahi. Tangannya menyentuh rambut Vallery yang masih basah. Bahkan air menetes membasahi bathrobe yang Vallery kenakan serta sofa tempat duduknya. "Ya." Vallery menoleh sambil tersenyum. "Kamu sendiri ... dari mana? Katanya mau mengajakku. Tapi, aku malah ditinggal." Dia mencebik. Hadley tertawa kecil. Dia manis padahal kalau sering tersenyum atau tertawa seperti itu. Vallery jadi merasa benar-benar hidup dengan sesama manusia. "Setelah ini, siap-siap kalau kamu mau tau siapa Adric," bisik Hadley. "Oke!" "Ve ... ." "Ve?" "Boleh aku memanggilmu seperti itu?" tanya Hadley. Vallery mengangguk antusias seraya tersenyum. Dia sudah menyelesaikan sarapannya. Sisa fresh milk juga sudah dia tenggak habis. "Ini lebih baik dari minuman semalam," ocehnya yang membuat Hadley kembali tertawa. Setelahnya, Vallery berdiri lalu mengambil pakaian yang masih teronggok di sofa. Namun, baru saja melangkah, tangannya sudah dicekal Hadley. "Mau ke mana?" bisiknya. "Bersiap. Kamu bilang tadi apa?" "Sebentar." Hadley menarik pinggang Vallery hingga wanita itu terduduk di pangkuannya. "Oh, tidak! Please, jangan lagi." "Sedikit," cicit Hadley. "Nanti lagi. Jangan sekarang," rengek Vallery. "Janji." "Yes, I promise, Beiby." Vallery mengecup singkat pipi Hadley kemudian melepaskan diri dari jeratannya. Dia melesat kembali ke kamar mandi dengan membawa serta pakaiannya. Hadley menggelengkan kepala; menatap kepergian Vallery dengan tawa kecil menyisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN