“Panti asuhan?” Vallery sudah berdiri di depan bangunan lumayan besar tersebut dengan tatapan bingung. “Kamu mengajakku ke Panti Asuhan untuk apa?”
Hadley melangkah lebih dulu. “Kamu mau tau siapa Adric, bukan? Aku juga sama. Mau memastikan sesuatu tentang dia, di sini.”
Vallery mengerut dahi. Adric berasal dari panti ini? Melangkah mengikuti Hadley yang sudah menyapa pengurus tempat ini. Hadley tampak ramah berbincang dengan wanita berusia kira-kira 60 tahunan tersebut. Di sisi kanan, tepat di sebuah taman yang Vallery lewati ada plang besar bertuliskan nama panti, lengkap dengan tahun di mana bangunan ini pertama kali beroperasi. Sudah cukup lama juga, batin Vallery begitu melihat angka yang tertera pada papan nama besar tersebut. Hampir sama dengan usia pengurusnya.
“Dia istriku. Tempo hari di acara amal, ada seseorang yang membawanya keluar dari acara. Dan kemungkinan orang itu pernah tinggal di sini.”
Vallery lebih terkejut lagi mendengar penuturan Hadley berikutnya. Tidak hanya memperkenalkan dia pada pengurus panti yang terlihat ramah dan keibuan itu, Hadley juga mengatakan insiden yang menimpanya. “Memangnya dia … ?” Vallery bermaksud untuk bertanya, tapi kalimatnya menggantung saat Hadley menatapnya seolah meminta Vallery untuk diam. Vallery tersenyum kaku menanggapi. Ada saat-saat Hadley tidak suka dia bertanya meskipun sikapnya sudah semakin lembut.
Hadley memasuki ruangan yang ada di tempat tersebut. Valery hanya terus mengekor dengan ribuan tanya yang tak dapat dia lontarkan. Ruang arsip yang menyimpan banyak data anak-anak yang pernah tinggal di sini—Vallery menelisik ke setiap sudut tanpa pergerakan. Kakinya masih berpijak di tempat yang sama, di dekat pintu masuk. Hanya matanya saja yang sibuk meneliti. Hadley kembali mendekat, membawa sebuah album foto lawas. Pengurus panti membantunya membuka album tersebut satu-persatu sambil menjelaskan siapa-siapa saja yang ada di foto tersebut.
“Perempuan itu bernam Maura Vale. Dia kemungkinan putri Antonio Vale. Aku tidak yakin, tapi foto itu … aku rasa pernah melihatnya di dalam Gudang penyimpanan barang bekas di rumahku saat aku masih kecil.”
Vallery mendengarkan dengan seksama penuturan Hadley. Dia sudah duduk di samping suaminya itu tanpa sepatah pun ikut bicara. Sementara itu, album foto di letakkan di atas meja.
“Gadis ini namanya Maura. Dia di sini sejak bayi dan kami yang memberi nama. Usianya sekarang 28 tahun dan sudah menikah.” Tunjuk ibu panti pada sosok gadis kecil di dalam album. “Yang ini juga namanya Maura, ibunya menitipkan di tempat ini karena dia harus bekerja ke luar negri. Tapi sampai saat ini, hingga Maura juga sudah tidak tinggal di sini, ibunya tidak pernah kembali.”
“Berapa usianya?”
“Sekitar 30 tahun.”
“Tidak. Bukan ini. Istri kakek Antonio setahuku sudah meninggal bahkan sebelum dia. Tidak mungkin Maura yang ini.” Hadley menggeleng kecewa.
“Baru dua orang yang Bernama Maura. Sabar sedikit,” cicit Vallery di samping Hadley sambil mengusap lengan pria itu. Memberi dukungan meskipun dia sendiri belum tahu kenapa Hadley mencari sosok wanita Bernama Maura.
Hadley mengangguk lantas meminta ibu panti kembali memberi keterangan.
“Sebentar,” sergah Vallery. “Apa kamu punya petunjuk lain selain nama?
Hadley menoleh pada Vallery. Dia tersenyum tipis. Tidak sia-sia Vallery dia bawa ke sini. "Kau benar. Apa ada Maura yang memiliki cincin seperti yang ku kenakan?" tanyanya sambil menunjukkan jari tengah kanan yang tersemat cincin. Hadley hampir melupakan itu kalau saja Vallery tidak bertanya.
Sementara hati Vallery semakin bergemuruh di isi banyak rasa penasaran begitu mendengar penuturan Hadley. Siapa sebetulnya Maura yang Hadley cari? Dia memiliki cincin yang sama seperti yang dipakai suaminya? Apa wanita itu begitu spesial untuk Hadley? Wanita yang menculiknya ... dia siapanya Hadley?
Vallery pikir wanita itu begitu membenci Hadley hingga ingin nama baik Hadley hancur. Tapi, sepertinya Vallery salah. Dia terus menduga-duga hingga pengurus panti kembali bersuara dan spekulasi Vallery buyar.
"Aku tidak ingat pasti, Nak. Kira-kira berapa usianya? Mungkin tidak ada di arsip yang ini."
Hadley berpikir sejenak. Antonio meninggal bahkan saat dia belum lahir. Hadley tidak tahu pasti di tahun berapa adik dari mendiang neneknya itu tiada. "Mungkin lebih dari 35 tahun lalu. Maura mempunyai saudara laki-laki bernama Adric, usianya sekitar 33 tahun. Tapi itu pun aku tidak tahu, Adric kakaknya atau adiknya."
Vallery menoleh terkejut. Jadi, ini yang dari tadi Hadley cari? Maura ada hubungannya dengan Adric. "Be-berapa tadi usia Adric?"
Hadley melirik Vallery, kedua tangannya saling bertaut dengan siku bertumpu pada kedua paha. "33 tahun. Tahun ini memasuki angka 34. Dia sekitar 5 tahun di atasku."
"Baiklah. Berarti kemungkinan bukan di arsip ini. Biar aku carikan yang lain."
Melihat ibu panti pergi ke arah rak, Vallery menghela napas pendek. "Kamu ngerjain orang tua."
"Apa?"
"Ya ... lihat."
Hadley melangkah mengikuti pengurus panti untuk bisa mengambilkan arsip yang tersimpan di rak atas. Pengurus panti hampir mengambilnya dengan tongkat kalau saja Hadley yang memiliki postur badan tinggi tidak membantunya.
"Terima kasih."
"Tidak. Aku yang membutuhkan ini jadi kurasa aku yang seharusnya berterima kasih." Hadley mengekor; kembali duduk di sofa.
Arsip hampir dibuka ketika suara gaduh ponsel mengalihkan atensi. Hadley buru-buru memeriksa, kemudian pamit untuk menerima panggilan tersebut di luar ruangan.
"Bagaimana?" Hadley langsung melempar tanya pada lawan bicaranya.
"Tidak ada catatan atau informasi mengenai Maura Vale, Tuan. Dia tidak terdaftar di kewarganegaraan di sini."
"Kau yakin?"
"Iya, Tuan. Ada dua kemungkinan. Antara Maura itu mendaftarkan identitasnya di negara lain atau dia sudah menghapus seluruh datanya."
Hadley mendengarkan dengan seksama penjelasan anak buahnya. Benar, Maura pasti sudah berlatih cara-cara menghilang itu dari Adric.
"Tuan, anda masih di sana?"
"Ya ...."
"Ponsel Adric ada bersamaku. Tadi pagi mau saya berikan, anda sudag lebih dulu keluar bersama Nyonya Vallery."
"Ya ... aku juga sedang mencari informasi mengenai Maura di tempat lain. Crosscheck sekali lagi dan laporkan padaku. Mengenai ponsel Adric, jangan kau apa-apakan dulu. Simpan, aku akan memeriksanya nanti."
"Lalu dengan manusianya? Harus kuapakan?"
"Biarkan dia tetap hidup sampai aku menemukan Maura."
"Baik."
Hadley kembali setelah sambungan telepon berakhir. Saat tiba di ruangan, dia mendapati Vallery sedang memegang selembar foto. Hadley meminta benda tersebut dari tangan Vallery.
"Nama kecilnya bukan Maura, tapi dia memakai kalung dengan liontin cincin sepertimu," tutur Vallery.
"Anda yakin ini Maura yang sedang kami cari, Bu?" Hadley menatap ragu foto dan beralih pada ibu panti.
"Itu foto dia saat berusia 13 tahun. Sekarang usianya sekitar 46 tahun. Kamu bilang tadi, wanita itu memakai pakaian tertutup, bukan? Dia pernah datang membawa sumbangan dengan pakaian yang sama juga memperkenalkan diri sebagai Maura. Dia mengatakan pernah tinggal di sini bersama adiknya."
"Bagaimana Anda bisa mengenalinya sedangkan dia menutupi wajahnya?"
"Cincin yang ada di kalungnya sama persis dengan cincinmu, Nak. Aku tidak mungkin salah mengingat walaupun aku sudah tidak muda lagi. Dan saat dia datang, dia memakainya di jari manis kiri."
"Aku juga yakin dia yang kamu cari." Vallery ikut bicara. Hadley menoleh pada istrinya yang masih duduk di tempat yang sama sementara Hadley sendiri berdiri di dekat meja; menyamping dari sisi Vallery juga pengurus panti.
"Kenapa?"
"Fotonya. Mereka bertiga." Tunjuk Vallery. Hadley meneliti lagi selembar foto lawas yang ada di tangannya. "Maura yang memakai kalung, sedangkan gadis lain di sampingnya yang menggendong bayi ... ."
"Bayi ini berarti Adric?" tanya Hadley. Ibu panti mengangguk.
"Gadis itu ibuku." Vallery meloloskan kalimat yang sempat menggantung. "Yang menggendong Adric itu ibuku. Foto yang sama ada di rumah. Aku pernah melihatnya dan sampai sekarang masih tersimpan apik di albumnya."
***
[Apa yang kau lakukan selama kamera itu mengawasimu?]
[Memang siapa yang mengawasiku?]
[Mungkin Hadley]
Maura terburu-buru membuka laptop miliknya yang tersimpan di lemari usang—pasca mendapat chat balasan dari Adric. Mengetik sesuatu di sana hingga ikon penghapusan data berhasil muncul pada layar.
Maura pergi meninggalkan tempat persembunyiannya yang sudah dipastikan tidak lagi aman. Notifikasi pesan masuk sebelum Maura benar-benar meninggalkan tempat tersebut. Adric mengirim video.
[Simpan ini dan selamatkan dirimu. Kemungkinan tidak lama lagi Hadley akan menghabisiku]
Gemuruh di hati Maura semakin kuat tatkala suara pijakan lebih dari satu kaki terdengar memasuki bangunan tua tempatnya bersembunyi. Maura keluar lewat pintu rahasia. Selain lepas dari kejaran orang-orangnya Hadley, Maura kini juga tidak memiliki identitas.