Air mata akhirnya menetes deras dari mata Isabella. Rasa sakit, kebingungan, dan pengkhianatan yang tiba-tiba menyelimutinya begitu menyiksa. Ivy lalu mendekat, membungkukkan tubuhnya hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Isabella. Aromanya yang semula harum, kini terasa seperti racun. Suaranya berbisik pelan, namun setiap katanya bagai sembilu yang menghunjam. “Baca semua dokumen itu pelan-pelan. Cerna setiap kebenaran pahit ini. Dan tentang Villa ini...” Ivy menatap sekeliling ruangan dengan pandangan merendah. “Dia membelinya atas namamu, bukan? Anggap saja ini hadiah perpisahan. Bayaran untuk segala ‘pelayanan’mu... untuk setiap detik kamu meminjam tubuhmu untuk menjerat putraku yang malang.” Setelah mengucapkan kata-kata penghinaan itu, Ivy berbalik dan pergi dengan langkah tega

