"Kau seharusnya tidak berada di sini," Isabella mendesis.
Leonardo mendekat, suaranya rendah. "Aku ingin memastikan kau baik-baik saja, maaf kalau semalam aku terlalu bersemangat."
Napas Isabella tersengal. Tubuhnya ingat. Ingat bagaimana jari-jari Leonardo—
"Jangan!" Isabella mundur. "Ini salah. Semuanya salah!"
Tapi Leonardo mengejarnya, menahannya di sudut meja. "Aku tahu kau merasakannya juga," bisiknya. "Kau menggigit bahuku semalam. Kau meneriakkan namaku bukan Matteo."
Isabella memalingkan muka, berusaha mengubur kenangan tubuhnya yang berkhianat. Tidak. Itu hanya pengaruh obat. Itu pasti hanya efek zat yang mereka berikan padanya.
Tapi kenapa, saat ini juga, jantungnya berdegup kencang mendengar suara Leonardo? Kenapa dadanya sesak ketika bau kayu cendana dan tembakau yang melekat pada lelaki ini menyusup ke hidungnya?
Sepanjang hari, bayangan sentuhan Leonardo terus menghantuinya. Setiap kali ia menutup mata, tubuhnya mengingatkan pada sensasi yang seharusnya dibencinya. Matahari bergerak melintasi langit, tapi pikiran Isabella tetap terjebak dalam labirin rasa bersalah dan keinginan yang tak bisa diakuinya.
Ketika senja tiba dan bayangan panjang mulai menyapu lantai kayu rumah mereka, Isabella menyaksikan dari balik tirai kamar saat
Matteo dan Leonardo memasuki ruang kerja bersama. Setelah kejadian semalam, seharusnya ia tak ingin berurusan lagi dengan keduanya. Tapi rasa penasaran menggerogotinya—apa mungkin mereka membicarakan bisnis di saat seperti ini? Atau... apakah mereka merencanakan sesuatu yang lain untuknya?
Dengan langkah sunyi, Isabella menyelinap mendekati pintu ruang kerja. Suara mereka yang teredam membuatnya harus menempelkan telinga di pintu kayu oak yang dingin. Detak jantungnya semakin kencang—apakah ia siap mendengar kebenaran yang mungkin lebih menyakitkan dari pengkhianatan semalam?
Malam itu, Isabella melihat Matteo dan Leonardo masuk ke ruang kerja, setelah peristiwa semalamnya sebenarnya dia malas berurusan lagi dengan suaminya ataupun Leonardo. Namun, dia penasaran apa yang akan mereka bicarakan, tidak mungkin bisnis.
Akhirnya dia menguping pembicaraan Matteo dan Leonardo di ruang kerja.
"Dia bakal hamil atau tidak?" geram Matteo.
"Butuh waktu, Matteo, kau tunggu saja! Benihku sehat tapi tidak menjamin akan jadi hanya dalam satu kali percobaan" jawab Leonardo dingin. "Aku bukan mesin yang bisa kau kendalikan."
"Tapi, Kau hanya bisa melakukannya satu kali, Leo!"
“Terserah kamu, Matt! Aku hanya membantu, menurutku satu kali tidak menjamin istrimu hamil!” Leonardo mengatakan itu tanpa tekanan.
“Okay, kamu boleh lakukan satu malam lagi! Tapi, kali ini harus hamil!”
Isabella menahan napas. Satu malam?
Tapi Leonardo tertawa—suara yang dalam dan berbahaya. "Bagaimana kalau ternyata tidak berhasil juga? Kau mau aku masuk ke kamarnya lagi?"
Matteo mulai gusar
Isabella tidak mau mendengarkan pembicaraan mereka sampai selesai, dia lari.
‘Sialan! Aku tahu orang tua Matteo menginginkan keturunan, tapi tidak harus seperti ini. Kenapa Matteo harus menyuruh Leonardo yang menghamiliku, ada apa dengannya?’ Isabella membenamkan wajahnya di bantal.
Setelah lelah menangis Isabella masuk ke kamar mandi, dia ingin mengusir noda yang ada di tubuhnya. Hari ini entah sudah berapa kali dia mandi, namun bekas sentuhan Leonardo rasanya masih tertinggal di sana.
Ini bukan masalah suka atau tidak suka, namun moral.
Di kamar mandi, Isabella menatap cermin. Tangannya mengelus perut yang masih rata.
Bagaimana jika ia hamil? Artinya dia mengandung anak Leonardo?
Air matanya jatuh. Tapi yang lebih mengerikan—ada bagian dirinya yang berharap ia mengandung bayi Leonardo.
"Aku gila," bisiknya pada bayangan di cermin.
Di luar, hujan mulai turun. Seperti air mata langit yang tahu—mungkin saja ini menjadi awal kehancuran rumah tangga yang sudah mereka bangun dengan cinta.
Satu minggu telah berlalu sejak malam itu.
Isabella menghirup dalam-dalam udara pagi di balkon kamarnya, mencoba menikmati ketenangan yang seolah diberikan Tuhan untuknya. Matteo akhir-akhir ini begitu sempurna—membawakan bunga setiap pagi, memijat kakinya yang lelah, bahkan mengajaknya berlibur ke villa keluarga di tepi danau. Sesibuk apapun selalu menyempatkan diri mengajak Isabella untuk menyenangkan istrinya.
Bahkan pada suatu pagi, dia pernah bertanya “Apa kamu gak ingin makan sesuatu, Belle” tanyanya sambil mencium leher istrinya, mencumbunya mesrah. Isabella bingung dengan pertanyaan suaminya karena dia memang tidak ingin makan apapun. Terlepas dari itu sikap Matteo membuat Isabella memaafkan perbuatannya dna menganggap Matteo saat itu hanya sedang alpha. Hal itu membuat Isabella merasa lebih baik dan tidak begitu merasa bersalah.
Isabella memang bukan wanita konservatif akan tetapi pandangannya terhadap ikatan pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang seharusnya tidak dikotori oleh pihak ketiga baik itu lelaki ataupun perempuan.
"Aku sudah memaafkannya," bisik Isabella pada diri sendiri sambil memandang cincin kawin berliannya yang berkilau diterpa matahari.
Tapi di sudut hatinya, bayangan Leonardo masih mengintai—bagaimana jari-jarinya menggenggam erat pinggulnya, bagaimana bibirnya menghisap kulit sensitif di lehernya...
"Sayang, siap untuk pergi?"
Suara Matteo menyentaknya dari lamunan. Ia tersenyum, mengenakan jas biru yang membuat matanya semakin cerah.
"Kemana?" tanya Isabella.
Matteo mencium tangannya. "Kita janji dengan dokter Giovani hari ini, ingat? Tes kehamilan."
Seketika, seluruh tubuh Isabella menjadi dingin. Janji temu yang seharusnya dinantikan setiap pasangan ini terasa seperti perangkap.
Napasnya tersangkut di tenggorokan ketika mobil meluncur menuju klinik dokter Giovani—tempat yang sama di satu tahun lalu mereka bersukacita mendengar hasil tes kehamilan pertama mereka, namun ternyata itu hanya telat terlambat bulan biasa.
Pintu lift klinik berbunyi nyaring. Setiap langkah di koridor steril itu terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Ketika mereka masuk ke ruang pemeriksaan, bau disinfektan menusuk hidung Isabella, menambah mual yang sudah menggelora sejak pagi.
Dokter Giovani menatap layar komputer, kacamata tebalnya memantulkan grafik hasil tes. Jari-jarinya yang berurat mengetuk keyboard perlahan.
"Kapan terakhir berhubungan intim, Nyonya Ruzzo?"
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti pisau.
Isabella menggigit bibir bawahnya. Berhubungan dengan siapa? Dengan Matteo—semalam, ketika suaminya tiba-tiba b*******h setelah berminggu-minggu dingin. Atau dengan Leonardo—seminggu lalu, dalam keadaan mabuk obat dan paksaan?
"S-semalam," jawabnya akhirnya, mata menghindari tatapan dokter.
Matteo yang duduk di sampingnya tiba-tiba tegang. Isabella bisa merasakan panas tubuhnya berubah.
Dokter Giovani mengangguk, mencoret sesuatu di berkas. "Tes ini paling akurat dilakukan 10-14 hari setelah ovulasi. Kalian berhubungan semalam berarti masih terlalu dini untuk—"
"Tapi kami juga bercinta seminggu lalu!" Matteo memotong, suaranya terlalu keras untuk ruangan konsultasi.
Isabella tersentak. Dia bilang 'kami'.
Dokter Giovani mengangkat alis. "Dalam seminggu terakhir, dua kali? Itu bagus untuk peluang konsepsi, tapi—"
"Jadi kenapa hasilnya negatif?" Matteo menyela lagi, jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme gugup.
Dokter menghela napas. "Seperti saya katakan, s****a butuh waktu untuk membuahi sel telur, lalu implantasi—"
"Tidak! Saya butuh kabar baik secepatnya" Matteo tiba-tiba berdiri, mendorong kursinya hingga terjatuh. "Istri saya seharusnya hamil, dokter!!"
Dokter Giovanni bingung mau menjawab apa, karena apa yang diminta Matteo di luar kuasanya. Dia disini hanya obgyn yang bertugas memeriksa dan memberikan saran untuk pasiennya.
Isabella menarik lengan suaminya. "Matteo, tolong—"