"KITA TIDAK PUNYA WAKTU!" raungannya menggema di ruangan kecil itu, membuat dokter Giovani mundur setengah langkah.
Tanpa peringatan, Matteo meraih tangan Isabella dan menariknya keluar, meninggalkan berkas-berkas yang berterbangan. Di lorong rumah sakit, para perawat dan pasien menatap dengan mata terbelalak.
"Kau mempermalukanku!" Isabella mendesis saat Matteo mendorongnya masuk ke mobil.
Tapi Matteo hanya menyalakan mesin dengan kasar. "Kau pikir aku peduli? Ayah akan mencabut jabatanku di perusahaan jika tidak ada kabar kehamilan minggu ini!"
Mobil melaju kencang, mencerminkan kemarahan di mata Matteo. Isabella menatap jendela, bayangannya yang pucat terpantul di kaca.
“Kamu harus melakukannya lagi dengan Leonardo! Nanti malam aku akan meminta dia datang ke rumah kita. Kamu sendiri pilih mau pakai obat seperti seminggu lalu, atau kamu lakukan dengan suka rela?”
Mata Isabella membulat, hatinya seperti dirobek-robek.
“Kenapa harus Leonardo?” dia bertanya piluh. "Kita bisa coba lagi, Matteo. Berdua. Tanpa... dia."
Matteo tiba-tiba mengerem mendadak di pinggir jalan. Wajahnya berubah jadi sosok asing—dingin dan penuh perhitungan.
"Karena….karena aku ingin kamu cepat hamil," bisiknya. "Jika Kau tidak bisa cepat hamil denganku, mungkin saja bisa dengan Leo. Dan kau sudah membuktikan sendiri tubuhmu meresponsnya."
Isabella tercekat. "Apa kau dengar dirimu sendiri? Kau memintaku berselingkuh! Lagi!"
Matteo menatapnya tajam. "Ini bukan perselingkuhan. Ini transaksi. Kau mau tinggal sebagai Nyonya Ruzzo? Mau warisan dan gelar itu untuk anakmu nanti? Maka lakukan ini."
Dia mengeluarkan telepon, menunjukkan pesan dari ayahnya:
[Riccardo Ruzzo]: "Jika Isabella tidak hamil dalam sebulan, aku akan mencarikan Matteo istri baru."
Isabella merasa dunia berputar.
"Kau punya pilihan," ucap Matteo, tiba-tiba lembut lagi. "Malam ini. Leonardo sudah setuju. Atau..." Tangannya menunjuk pesan itu. "...kau mau digantikan?"
Di luar jendela, awan hitam mulai mengumpul. Persis seperti rasa sakit yang merayap di d**a Isabella.
Ini bukan permintaan.
Ini pemerkosaan dengan persetujuan.
Dan yang paling mengerikan—
Ia mulai mempertimbangkannya.
Dia sangat mencintai Matteo, itu alasan dia menerima pinangan lelaki itu tiga tahun lalu begitu lulus dari universitas.
Mengesampingkan impiannya menjadi seorang fashion designer. Bukan gelar atau harta. Tapi, Matteo.
Mobil Mercedes hitam itu masih bergetar di pinggir jalan, mesin menyala seperti amarah Matteo yang belum mereda.
"Aku tidak akan melakukannya lagi!" Isabella membanting pintu mobil, berjalan cepat ke arah pintu utama rumah mereka yang lebih tepat disebut istana. Angin sore menerbangkan rambutnya yang terurai.
Isabella langsung berjalan cepat ke arah tangga. Kakinya masih gemetar sejak pertengkaran di rumah sakit, tapi kemarahannya yang membuatnya terus bergerak.
Matteo mengejarnya, menarik lengan Isabella dengan kasar. "Kau pikir ini pilihan?!"
"Ini BUKAN pernikahan, Matteo! Ini—ini transaksi prostitusi!" teriak Isabella, suaranya pecah. Beberapa orang di sekitar mulai menoleh.
Matteo menurunkan volume suaranya, tapi nadanya lebih berbahaya. "Kau mau hidup seperti apa? Miskin? Terbuang? Lupakan saja karier desainermu yang mentok itu!"
Isabella tersentak. Dia menggunakan impianku sebagai senjata.
"Aku lebih memilih miskin daripada jadi p*****r untuk suamiku sendiri!"
"Bella! Kita belum selesai bicara!" Matteo mengejar, menarik pergelangan tangan istrinya di depan pintu kamar tidur.
Isabella memutar badan, matanya menyala. "Apa lagi yang perlu dibicarakan? Kau sudah mendengar dokter—"
"Dokter itu i***t!" Matteo mendorong Isabella masuk ke kamar, menutup pintu dengan keras. "Keluarga Ruzzo tidak butuh alasan medis. Yang kita butuhkan adalah hasil. SEKARANG."
Tiba-tiba, sebuah motor Harley Davidson terdengar dari luar, halaman rumah mereka. Suara mesinnya menghentikan pertengkaran.
Suara langkah berat terdengar di lorong.
Leonardo muncul di ambang pintu, bersandar di bingkai kayu dengan sikap santai yang menipu. Dia memakai kaus hitam lengan panjang yang menempel di setiap otot tubuhnya, celana jeans yang mempertegas bentuk kakinya yang panjang.
"Ruang tamu lebih nyaman untuk berdebat," ujarnya, suaranya seperti velvet yang dibalur es.
Isabella tidak bisa mengalihkan pandangan. Leonardo hari ini memakai kaus hitam ketat yang memperlihatkan setiap otot di tubuhnya, celana jeans robek di lutut, dan sepatu boots kulit—seperti bintang rock yang baru turun dari panggung. Tidak menunjukkan sama sekali kalau dia seorang CEO sebuah perusahaan cyber internasional.
Tubuhnya bereaksi lagi.
Bahkan tanpa obat.
"Leo, tepat waktu," Matteo menyambut dengan dingin. "Aku sudah bicara pada Isabella. Dia butuh... persuasi."
Leonardo melangkah mendekat, setiap langkahnya seperti panther mengintai mangsa. Isabella mundur tanpa sadar, sampai punggungnya menabrak pohon.
"Mau kubujuk pakai kata-kata..." bisik Leonardo, tangannya menempel di batang pohon di samping kepala Isabella, "...atau dengan cara lain?"
Napas Isabella tersengal. Bau nya—kayu sandalwood dan sedikit asap—membuat pikirannya berkabut.
Tapi kemudian—
"TOLONG!" Isabella mendorong Leonardo dengan sekuat tenaga. "Kalian berdua gila! Ini tidak manusiawi!"
Leonardo tertawa pendek. "Manusiawi? Keluarga Ruzzo tidak mengenal kata itu, Bella."
Isabella berdiri di sebelah kursi makan marmer, tangannya mencengkeram sandaran kursi sampai buku-buku jarinya memutih.
"Aku tidak akan melakukannya lagi. Titik."
Matteo melemparkan gelas anggur ke dinding. Kristal pecah berhamburan seperti air matanya yang palsu. "Kau pikir ini soal pilihan? Ini tentang kelangsungan keluarga!"
Leonardo mengisi gelasnya sendiri, meminum anggur merah perlahan seolah menonton pertunjukan teater.
"Kalian berdua sakit!" Isabella menuding mereka bergantian. "Selama ini aku sudah menjadi istri yang setia selama tiga tahun! Dan ini yang kudapat? Disuruh jadi p*****r untuk menyelamatkan 'nama baik' keluarga?"
Leonardo tiba-tiba tertawa—suara pendek yang membuat bulu kuduk Isabella berdiri.
"Kau lucu, Bella," ujarnya sambil memutar gelas di tangannya. "Kau masih bicara tentang moralitas? Di keularga Ruzzo, yang kita hormati adalah hasil, bukan proses."
Matteo menatap kakak angkatnya dengan bingung.
Leonardo berdiri, perlahan mendekati Isabella. "Kau mau tetap jadi Nyonya Ruzzo? Mau anakmu mewarisi segalanya? Maka lakukan apa yang diperlukan." Dia membelakangi Matteo, menatap Isabella dengan intens. "Tapi kau harus memutuskan sekarang. Karena besok mungkin sudah terlambat."
Isabella menggigit bibir sampai berdarah. "Apa maksudmu?"
Leonardo mengeluarkan telepon, menunjukkan foto—Isabella dan Leonardo di kamar tidur seminggu lalu, diambil dari sudut tersembunyi.
“A-apa ini, Leo? Ini gila! Kamu gak seharusnya ambil ini!”
Leonardo menyeringai, “Kamu benar, aku hanya simpan ini sebagai dokumentasi, suamimu yang ambil. Dan aku yang memintanya.
Karena aku ingin ini juga menjadi bukti kalau aku memiliki andil dalam kehamilanmu”
Leonardo meletakkan telepon di meja. "Pilihan ada padamu, Bella. Tapi ingat—" Matanya yang hijau itu berkilat licik. "—keluarga Ruzzo tidak pernah kalah."
Isabella melihat ke dua lelaki itu—suaminya yang tampak dingin dan tak peduli, dan saudara angkatnya yang dingin seperti ular namun memikat dalam waktu bersamaan.
Dengan gerakan cepat, ia mengambil vas bunga kristal dan menghancurkannya ke lantai.
"KALIAN MONSTER!"