Dengan sekuat tenaga Daania menyeret tubuhnya sampai tiba di depan pintu ruang kerja Evans, pintu yang tertutup rapat dan dikunci dari dalam, membuat Daania tak kuat untuk menahan tangisannya yang semakin membuncah. "Biasanya kamu tidak pernah menutup rapat pintu ruangan kerjamu, Vans... Tapi, kenapa sekarang kamu malah menguncinya? Sebegitu bencinya kah kamu atas kesalahan di masa laluku, Dave?" batin Daania yang hatinya ikut menangis menahan rasa sakit yang terasa sampai menusuk jantungnya. "Evans... Honey... Buka pintunya, aku enggak mau kita jadi seperti ini. Aku minta maaf, Hon, tolong maafin aku. Aku mohon, jangan musuhin aku seperti sekarang, Honey..." kedua tangan Daania memukul daun pintu itu berulang kali, berharap Evans mau memaafkannya dan membuka pintu untuknya. Evans yang

