Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku rasakan saat ini. Apakah harus bahagia? Ataukah malah bersedih? Ya, sesuai dengan permintaan Oma. Aku dan Pak Hen mengucap akad nikah di depannya. Mommy dan Daddy mempersiapkan segalanya. Penghulu diundang ke rumah sakit. Yang hadir tidak banyak. Selain dari keluargaku, yang menyaksikan akad kami adalah Nyonya Mona dan Tomas. Bahkan istri Tomas juga tidak ada. Satu lagi, Aldo yang sudah ku anggap sebagai Abangku sendiri, pria itu berhalangan hadir. Dia bilang ada pekerjaan mendesak ke luar kota. Aku bisa memakluminya. Aldo sedang merintis usaha baru di bidang kosmetik. Kecewa? Tentu ada. Tadinya aku ingin Aldo turut merasakan kebahagiaanku. Tapi aku juga tidak bisa memaksakan kehendak. "Bagaimana para saksi? Sah?" ucap penghulu saat akad sudah s