Truk itu terus melaju menembus malam, meninggalkan cahaya mansion Falcone yang perlahan menghilang di balik tikungan jalan. Gwen tetap bersembunyi, tubuhnya meringkuk di antara palet kayu, telapak tangannya terasa perih karena mencengkeram besi dingin terlalu lama. Setiap getaran mesin terasa sampai ke tulangnya, tapi ia tidak berani bergerak terlalu banyak. Gwen bukanlah seorang putri mafia yang manja, justru setelah kematian ibunya dia banyak mengalami penderitaan yang membuat dia harus berlatih untuk melindungi dirinya sendiri.
Dia tahu ibu tiri dan saudara tirinya sudah merencanakan ini dari dulu, hanya belum menemukan waktunya. Sekarang dia menemukan seseorang sebagai alat agar tangan mereka tetap bersih.
Gwen sudah belajar sedikit cara melawan orang-orang seperti mereka. Dan cara seorang mafia lari dari kejaran musuh. Di dunia mafia dia belajar banyak dari ayahnya.
Butuh beberapa menit sampai napasnya kembali sedikit teratur. Ia menempelkan dahi ke lantai bak truk, memejamkan mata sejenak, memaksa pikirannya tetap jernih.
Aku hidup, pikirnya. Untuk saat ini.
Suara klakson dari kejauhan dan lampu-lampu kota mulai terlihat samar. Truk itu jelas menuju area industri deretan gudang tua, jalanan lebar yang sepi di malam hari.
Gwen mengintip perlahan dari balik kotak. Sopir truk tampak sendirian. Itu kabar baik.
Saat truk melambat mendekati lampu merah, Gwen tahu ia tidak bisa terus bersembunyi. Begitu truk berhenti terlalu lama, risiko ketahuan akan semakin besar. Ia menunggu detik yang tepat, jantungnya kembali berpacu.
Lampu merah. Kecepatan menurun.
Sekarang.
Dengan gerakan cepat, Gwen melompat turun ke sisi jalan, berguling untuk meredam benturan. Rasa sakit menjalar di bahunya, tapi ia menahannya tanpa suara.
Truk kembali melaju, sopirnya tak pernah sadar bahwa ia baru saja membawa seorang buronan dalam bak kendaraannya.
Gwen bangkit tertatih, menepi ke balik bayangan gudang tua. Lampu neon berkedip di atas kepalanya, menerangi jalanan kosong yang terasa asing dan dingin.
Gwen menyandarkan punggung ke dinding gudang, menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, ketakutan benar-benar menyusup ke dadanya. Bukan takut mati tapi takut gagal sebelum sempat membongkar semua kebohongan yang telah membungkus hidupnya.
Di tempat lain, jauh dari gudang tua itu, Nicolas kembali ke dalam mobilnya.
Ponselnya bergetar. Nama Citra muncul di layar.
“Dia lolos,” kata Nicolas datar saat sambungan tersambung.
Sesaat hening, lalu suara Citra terdengar seperti menahan amarah. "Aku tidak mau tahu, cepat temukan dan bunuh dia!!!"
Nicolas menatap jalan gelap di depannya, rahangnya mengeras.
“Aku akan menemukannya.”
Sementara itu, Gwen menegakkan tubuhnya, menatap langit malam yang tertutup awan. Ia tahu satu hal pasti, mulai detik ini, ia tidak lagi hanya berlari.
Ia akan bersembunyi. Mengumpulkan kekuatan. Dan ketika saatnya tiba, ia akan kembali bukan sebagai korban, tapi sebagai ancaman.
Malam belum berakhir.
Dan perang baru saja dimulai.
****
Gwen berjalan tertatih menyusuri sisi gudang tua itu, telapak kakinya terasa mati rasa. Setiap langkah seperti mengoyak bagian dalam perutnya. Rasa hangat yang menjalar di paha membuat dadanya sesak ia tahu itu bukan luka biasa.
Darah.
Jaketnya sudah basah di bagian dalam, tapi Gwen tetap memaksa diri berdiri. Gudang itu tampak kosong, pintu besi berkarat setengah terbuka, lampu luar berkedip lemah. Tempat berlindung, pikirnya. Hanya sebentar. Cukup sampai rasa sakit ini mereda.
Ia tidak tahu.
Gudang tua itu bukan bangunan terbengkalai.
Itu adalah salah satu gudang penyimpanan milik Romano mafia paling berbahaya, musuh keluarganya.
Pandangan Gwen mulai berkunang-kunang. Dinding terasa berputar. Ia meraih sisi gedung, jari-jarinya meninggalkan jejak darah samar di beton dingin.
“Sedikit lagi...,” bisiknya, tapi lututnya tak sanggup menahan tubuhnya.
Gwen terjatuh di depan pintu gudang, tubuhnya menghantam tanah dengan suara pelan. Rasa sakit di perutnya memuncak, lalu semuanya perlahan menghilang. Gelap menelan kesadarannya.
Beberapa saat kemudian, suara mesin mobil memecah kesunyian area itu.
Mobil hitam berhenti tak jauh dari gudang. Maxim Romano turun, jasnya rapi, wajahnya tegang urusan penting barusan tidak berjalan sesuai rencana. Ia hendak masuk ke gudang ketika pandangannya tertarik pada sesuatu di tanah.
Seseorang tergeletak.
Langkahnya terhenti. Mata Maxim menyipit saat melihat sosok perempuan dengan rambut gelap acak-acakan, tubuhnya terkulai tak bergerak. Ia mendekat dengan waspada, satu tangan refleks siap meraih senjata hingga ia melihat wajah itu.
Wajah yang ia kenal.
“Gwen ..., De Luca?” gumamnya, nada suaranya berubah.
Darah terlihat jelas mengalir dari balik jaketnya, membasahi kaki dan tanah di bawahnya. Wajah Gwen pucat, bibirnya nyaris tak berwarna. Napasnya tipis, nyaris tak terasa.
Maxim tidak ragu lagi.
“Siapkan mobil. Sekarang,” perintahnya singkat lewat alat komunikasinya, suaranya tajam namun terkontrol. Ia melepas jasnya, menekannya ke perut Gwen untuk menghentikan aliran darah sebisanya.
Tanpa menunggu bala bantuan, Maxim mengangkat tubuh Gwen ke dalam mobilnya sendiri. Tangannya mantap, tapi rahangnya mengeras ini bukan kebetulan. Seorang De Luca tergeletak berdarah di depan gudangnya sendiri adalah awal dari masalah besar.
Mobil melaju kencang menembus malam, sirene ambulans belum menyala, tapi kecepatan Maxim sudah cukup berbicara. Matanya sesekali melirik Gwen yang tak sadarkan diri di kursi belakang.
“Bertahanlah,” katanya pelan, lebih seperti perintah daripada permohonan. “Kau belum boleh mati.”
Lampu rumah sakit akhirnya terlihat di kejauhan, menyambut mereka dengan cahaya putih yang menusuk mata. Dan tanpa disadari Gwen, malam pelariannya justru membawanya ke tangan pria yang bisa menjadi penyelamat … atau awal dari bahaya yang jauh lebih besar.
Karena satu hal pasti pertemuan Gwen De Luca dan Maxim Romano bukanlah takdir yang sederhana.
****
Gwen segera dibawa masuk ke ruang gawat darurat begitu mobil berhenti di depan rumah sakit. Pintu terbuka cepat, tandu didorong dengan tergesa, suara langkah kaki dan perintah singkat dokter saling bersahutan.
“Perdarahan hebat di perut bagian bawah."
“Tekanan darah turun.”
“Siapkan ruang operasi, sekarang.”
Tubuh Gwen menghilang di balik pintu putih yang tertutup rapat.
Maxim berdiri terpaku di lorong, tangannya masih berlumur darah yang mulai mengering. Jasnya kusut, napasnya belum sepenuhnya tenang. Ia menatap pintu ruang operasi tanpa berkedip, ekspresinya dingin tapi ada sesuatu yang jauh lebih berat bersembunyi di balik tatapan itu.
Sudah lama ia tidak merasakan perasaan ini.
Bukan panik.
Bukan iba.
Melainkan firasat buruk.
Seorang perawat mendekat. “Anda keluarga pasien?”
Maxim terdiam sejenak. “Ya,” jawabnya singkat. “Pastikan dia selamat.”
Perawat itu menatapnya ragu, lalu pergi tanpa bertanya lebih jauh.
Lorong rumah sakit kembali sunyi, hanya diisi dengung lampu dan detak jam dinding yang terasa terlalu keras. Maxim duduk di kursi besi, menyandarkan punggung, menundukkan kepala sejenak. Ingatannya berkelebat, nama De Luca, konflik lama, wajah Nicolas, dan kini..., Gwen, tergeletak berdarah di depan gudangnya.
Ini bukan kebetulan, pikirnya.