1. Pengkhianatan Suamiku
Di lorong hotel yang sunyi, cahaya lampu yang redup dan udara dingin dari AC membuat kulit terasa kaku.
Nicolas menempelkan tubuhnya sedikit ke dinding, tatapannya menahan gairah saat tangan Citra berada di bahunya.
“Hmmmz... kenapa kita nggak bisa berhenti sekarang juga?” bisik Citra, suaranya lembut tapi penuh kerinduan.
Nicolas menunduk, bibir mereka bersentuhan.
“A~aku nggak bisa, aku kecanduan tubuhmu,” jawabnya, napasnya bergetar.
“Emmmhh ... tapi kau tahu ini salah! Bagaimana jika Gwen melihat kita?”
Citra menggigit bibirnya, tatapannya menantang tapi juga takut. Mereka semakin mendekat, dan lorong yang sunyi itu terasa seperti dunia milik mereka sendiri.
Tangan Nicolas menyentuh bibir Citra perlahan, lalu Citra menempelkan dahinya ke dadanya. "Ahh... Nicolas, jangan disini bahaya jika Gwen tau!!!"
"Gwen tidak akan tau bebyy!" Jawab Nicolas.
Mereka menikmati momen yang terlarang itu, dengan penuh ketegangan dan gairah yang menggebu.
Di luar lorong, musik pesta terdengar samar, tapi di sini hanya ada mereka, napas yang saling bertabrakan, dan rasa yang terlarang itu menjalar ke seluruh tubuh mereka.
****
Di ruang ganti, Gwen berdiri di depan cermin lebih lama. Gaun yang dipakai nya pas, riasannya sempurna, tapi ada sesuatu yang aneh. Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
“Mungkin cuma gugup atau terlalu bersemangat,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri, mencoba menepis rasa cemas itu.
Hari ini adalah hari anniversary tahun pertamanya bersama sang suami, Nicolas.
Dengan napas panjang, Gwen menoleh ke arah pintu. Ia melangkah pelan di lorong menuju aula hotel, langkahnya pelan tapi hati kecilnya tetap waspada. Musik pesta terdengar samar dari kejauhan, tapi ada sesuatu yang lain suara samar, desahan yang aneh, seperti bisikan yang tak seharusnya ia dengar.
Gwen berhenti melangkah. Tubuhnya kaku, seolah lorong itu tiba-tiba menyempit. Pandangannya terpaku pada dua sosok di hadapannya, dan dalam hitungan detik ia tahu, tanpa perlu mendekat, bahwa jarak di antara mereka bukan jarak yang seharusnya sangat dekat.
Nicolas, suaminya, menempel dekat dengan Citra, saudara tirinya. Mereka berdua terlalu dekat, terlalu intim, tangan saling menyentuh, bibir saling menempel. Pakaian yang acak-acakan. Mereka tidak menyadari adanya Gwen karena tengah asyik b******u.
Gwen terdiam sejenak, rasa sakit dan keterkejutan membakar dadanya. Dunia di sekeliling lorong seakan hilang, yang ada hanya kenyataan yang tak ingin ia percayai.
Napasnya tercekat, tapi matanya tetap menatap, ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukan ilusi. Itu nyata.
Gwen menatap Nicolas dan Citra dari lorong, dadanya berdebar dan tangan kanan perlahan mengepal. Ada amarah yang membara di matanya, tapi ia menahannya tidak mudah untuk meledak begitu saja.
Kalau saja pernikahan mereka didasari karena cinta, ia pasti sudah menghampiri Nicolas dan Citra untuk menampar mereka, tapi nyatanya pernikahannya hanyalah karena aliansi dan desakan dari ayahnya dan bentuk kerja sama yang menguntungkan.
Membuat Gwen terpaksa harus setuju menikah dengan Nicolas setahun yang lalu, tanpa adanya perasaan dan ketertarikan satu sama lain, bahkan Nicolas tak pernah menyentuhnya sama sekali.
Gwen dianggap hanyalah barang antik yang bisa dibeli dan dipajang di rumah.
Ia tidak bergerak. Amarah itu meluap, tapi tidak meledak. Pernikahan ini sejak awal bukan tentang perasaan, dan Gwen tahu betul apa harga dari emosi yang tak terkendali. Di dunia tempat ia dibesarkan, kemarahan yang ditunjukkan terang-terangan hanya akan menjadi celah bagi orang lain.
Matanya tetap mengarah pada Nicolas dan Citra, tapi di dalam kepala Gwen, strategi mulai terbentuk.
“Kalau aku bertindak sekarang, semua akan berantakan, tapi kalau aku diam dan bermain licik aku bisa membalikkan keadaan," pikir Gwen.
Diam-diam setiap gerakan mereka diamati dengan teliti. Gwen merekamnya. Bagaimana Nicolas menyentuh Citra, dan cara Citra membalasnya dan adegan mereka, Gwen menyimpan semua itu dalam ponselnya. Ini bukan hanya soal pernikahan yang dikhianati, ini tentang kekuasaan, kontrol, dan reputasi. Dan Gwen tahu, balas dendam yang terencana selalu lebih mematikan daripada amarah yang meledak-ledak.
****
Gwen masih menempel di dinding lorong, matanya menatap Nicolas dan Citra dari jauh, saat tiba-tiba terdengar suara ringan di sampingnya.
“Sepertinya tidak baik mengintip orang lain, Nona,” kata seorang pria dengan pakaian pelayan dan senyum tipis di wajahnya.
Gwen menoleh, sekilas menatap pria itu tinggi, berotot, dengan tatapan tajam yang membuatnya berhenti sejenak. Tapi bukannya mundur, sesuatu dalam dirinya merespon.
Dalam sekejap, tangan Gwen memegang lengan pria itu dan menariknya ke arah kamar hotel yang sepi di lorong samping.
Keduanya masuk, pintu ditutup rapat di belakang mereka. Gwen menatap pria itu dengan mata yang hampir membara, suara rendahnya nyaris berbisik.
“Kamu tahu... aku bisa melakukan apa saja jika aku mau. Jadi patuhlah denganku!!!" ucap Gwen.
Pria itu tersenyum samar, tapi ada rasa penasaran yang jelas di matanya. Gwen melangkah lebih dekat, menempatkan dirinya di posisi dominan. Lorong yang tadi tampak gelap dan penuh rahasia kini menjadi ruang di mana Gwen menunjukkan kekuatannya bukan sebagai istri yang terluka, tapi putri mafia yang memegang kendali.
Di dalam kamar hotel itu, aura mereka berdua dipenuhi ketegangan antara kekuatan, d******i, dan rasa penasaran yang samar.
Gwen tidak lagi hanya seorang yang dikhianati, ia adalah pemain yang mulai mengendalikan permainan. Dia akan membalas perbuatan suami dan saudara tirinya.
Gwen menatap pria itu, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang memikat dalam tatapannya, bukan sekadar fisik, tapi aura kekuatan dan keberanian yang ia hargai. Sesuatu yang membuatnya ingin dekat, ingin merasakan kontrol dan rasa aman sekaligus.
Tanpa sadar, Gwen melangkah lebih dekat. Napasnya terasa hangat di udara kamar yang sepi. Sebuah dorongan halus muncul dalam dirinya, dorongan emosional, ingin merasakan kedekatan dan kehangatan pria itu.
Pria itu menatapnya, seolah membaca ketegangan yang tersembunyi di balik senyum Gwen. Tanpa kata, Gwen merasakan energi mereka bertemu, intens, menantang, dan membuatnya sadar bahwa permainan dan pengkhianatan yang membara di hatinya.
Gwen pun mendekatkan wajahnya pada pria itu, bibir mereka pun bertemu satu sama lain. Siapapun pasti tidak akan menolak seorang Gwen De Luca. Wanita cantik, anggun, dan kaya raya, seorang putri mafia yang di segani.
Pria itu mulai membalas mengendalikan permainan, dia mencium dan melumat bibir Gwen dengan ganasnya. Kamar yang gelap itu menjadi saksi bisu dimana keringat mereka bercampur menjadi satu.
Gwen memejamkan mata saat rasa sakit dan nikmat itu menjalar ke dalam tubuhnya. Gwen yang berpikir akan memberikan tubuhnya pertama kali untuk suaminya, tapi kini justru dia berikan kepada seorang pelayan demi membalas perbuatan suami dan saudara tirinya.
Bayangan Citra yang sedang mendesah kenikmatan atas berbuat Nicolas semakin membuat Gwen menggila. Gwen pun semakin ganas memimpin permainan.
Pria asing itu tersenyum penuh kepuasan.
"Hmmm... menarik, ternyata anda masih perawan rupanya, Nona De Luca? Mengapa suami anda melewatkan tubuh indah ini?" tanya pria itu sambil menikmati keindahan tubuh Gwen.
"Diamlah!!! Ahh... S~sakit. Pelan-pelan bajingaan!!!"
"Apa anda tidak menyesal, telah memberikan tubuh anda untuk seorang pelayan, Nona?"
"Tidak!!! Kau harus membuatku hamil. Tenang saja aku akan membayarmu, tapi jaga rahasia ini. Apa kau mengerti?" ucap Gwen dengan nada mengancam.
Pria itu tersenyum tipis. "Sangat mengerti, Nona."
Gwen tidak tahu siapa pria itu, tapi pria itu tahu siapa Gwen De Luca. Wanita yang selalu hadir dalam obsesinya.
Gwen mengalihkan pandangannya, menarik napas pelan. Malam itu belum berakhir, dan ia tahu satu hal apa pun yang terjadi setelah ini, ia akan membalaskan dendamnya.