2. Mencari Pelampiasan

1230 Kata
Gwen keluar dari kamar itu dan menutup kembali pintunya. Ia menghela nafas panjang dan bersikap seolah tidak pernah terjadi sesuatu, walau ia merasa masih terasa perih setelah pertempuran tadi. Ia melangkah ke lorong hotel, menyatukan kembali wajah tenang dan senyum anggunnya. Tidak ada yang boleh tahu apa yang terjadi. Gwen memasuki Aula pesta, para tamu tersenyum menyapanya tapi Gwen hanya membalas dengan senyum sopan. Nicolas terlihat sibuk menyapa tamu-tamu lain, dan Citra tampak tertawa ringan di pojok ruangan. Tidak ada yang terlalu dekat, tidak ada yang mencurigakan. Semua tampak normal. Gwen mengambil gelas di meja, menyesap perlahan, dan membiarkan dirinya tersenyum ringan. Ia menahan semua rasa sakit dan keterkejutan di dadanya, menekan amarah, dan mengingatkan diri sendiri, ini hanyalah pesta anniversary. Ia bisa bersikap tenang, berpura-pura tidak melihat, dan menikmati malam ini. Di dalam hatinya, Gwen tahu bahwa ia tetap memiliki kendali bukan atas Nicolas atau Citra, tapi atas dirinya sendiri. Malam ini, ia akan tetap anggun, tetap sempurna di mata semua orang. Dan itu saja sudah cukup, setidaknya untuk saat ini. Beberapa menit setelah Gwen menyesuaikan diri dengan suasana pesta, Citra melangkah mendekatinya. Gaunnya berkilau di bawah lampu, senyumnya manis dan terdengar hangat ketika ia berkata, “Selamat, Gwen … atas satu tahun pernikahannya. Semoga bahagia terus, ya!!!” Gwen menatap Citra, matanya bersinar tajam di balik senyum anggunnya. Perlahan, ia mengangkat satu alis, senyumnya melengkung menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin daripada sopan santun. “Terima kasih, Citra,” Gwen menjawab dengan nada lembut, tapi setiap kata berisi duri. “Tapi kau tahu … kadang seekor ular bisa memiliki dua muka. Hati-hati, siapa yang kau anggap saudara, siapa yang kau anggap musuh, semuanya bisa menipu!!!" Citra tersenyum canggung, seolah mencoba menutupi rasa tidak nyaman, tapi Gwen sudah menarik semua perhatian. Tanpa menunggu jawaban, Gwen menoleh dan melangkah meninggalkan Citra, tetap menampilkan wajah anggun dan sopan, seakan semua kata-kata itu hanyalah senyum biasa di pesta. Di dalam kepala Gwen, ia tersenyum puas. Semua orang melihatnya sebagai istri sempurna yang anggun, tapi hanya dia yang tahu bahwa sindiran itu bukan sekadar kata-kata itu adalah peringatan terselubung. Pesta ini mungkin tampak meriah dan damai, tapi di balik itu, Gwen sudah mulai menandai lawan-lawan yang perlu dia waspadai. **** Di kamar hotel yang sepi, Maxim Romano menatap sekelilingnya sebentar, lalu ponselnya bergetar di meja. Ia mengangkatnya dengan cepat, ekspresinya langsung serius begitu melihat nama yang muncul di layar. Ajudannya menelepon. “Ya?” suaranya tenang tapi penuh ketegangan. Di seberang telepon, suara ajudannya terdengar tergesa-gesa. “ Bos … situasi di hotel sudah tidak aman. Anak buah De Luca sedang bergerak. Kalau kita tetap di sini, semua bisa ketahuan!!!” Maxim menutup telepon sebentar, menghela napas dalam. Setiap gerakannya menunjukkan profesionalisme seorang bos mafia tenang, cepat, tapi selalu waspada. Ia menatap sekeliling kamar, memastikan tidak ada ancaman lain yang tampak. “ Baik, waktunya pergi lebih cepat dari rencana,” gumamnya pada dirinya sendiri, suaranya rendah. “Setiap detik di sini bisa berisiko.” Maxim mengambil tas kecil yang sudah dipersiapkan sebelumnya, memeriksa isi dengan cepat, dan memastikan jalur keluar dari hotel aman. Ia tahu, sekali anak buah De Luca tahu keberadaannya, semua bisa berantakan. Dengan langkah hati-hati tapi cepat, Maxim membuka pintu kamar, melangkah ke lorong yang tampak sepi, dan mulai bergerak menuju pintu belakang hotel. Di pikirannya, malam ini bukan hanya soal menghindari risiko ini soal tetap menjaga informasi penting dan menjaga reputasi. Mobil hitam menunggu di luar, Maxim menutup pintu dengan cepat, napasnya masih teratur tapi hatinya tetap waspada. Ajudannya menoleh sebentar, menunggu perintahnya, dan Maxim hanya mengangguk. Sambil menatap jalan, matanya secara otomatis melirik ke arah hotel. Cahaya lampu ballroom tampak samar di kejauhan, musik pesta terdengar redup bahkan dari luar. Sekilas, ia teringat pada Gwen De Luca perempuan itu yang tak terduga, cerdas, dan berani. Maxim menghela napas pelan. Malam ini bukan hanya soal keselamatan dan rahasia yang harus dijaga. Kejadian di kamar hotel itu, pertemuannya dengan Gwen, membuatnya menyadari satu hal wanita itu lebih dari sekadar seorang putri mafia yang dikenal banyak orang. Ada sesuatu dalam caranya mengendalikan situasi, sesuatu yang membuat Maxim harus mengakui, meski diam-diam, bahwa Gwen memiliki keberanian dan insting yang langka. Ia menatap hotel sekali lagi, mata tajamnya menyapu setiap detail lorong, pintu keluar, bahkan cahaya yang memantul di lantai marmer. Semua ini menjadi pengingat bahwa malam ini, meski mereka berhasil keluar, risiko masih mengintai. Dan Gwen tetap menjadi bagian dari yang tak bisa ia abaikan. Maxim menepuk dasbor pelan, menenangkan diri. “Fokus, Maxim!!! Sekarang prioritasnya keluar dari sini dengan aman. Lainnya, biarkan nanti,” gumamnya pada diri sendiri. Mobil melaju, meninggalkan hotel yang masih penuh lampu dan musik pesta, tapi di pikiran Maxim, bayangan Gwen tetap membekas seperti tanda bahwa malam ini, segalanya tidak akan sesederhana kelihatannya. **** Sesampainya di markas Romano, Maxim segera menuju ruang latihan menembak. Senjatanya sudah siap, pelatuk di ujung jari, dan target menunggu di ujung lorong tembak. Tubuhnya tegang, setiap gerakan tepat dan terlatih seperti yang selalu ia lakukan. Namun entah mengapa, malam ini berbeda. Meski tangannya tetap stabil, pikirannya sulit fokus. Bayangan Gwen terus menghantuinya, wajahnya, tatapannya, desahannya, sentuhannya dan cara ia bergerak di lorong hotel semua itu muncul dalam pikirannya seperti hologram yang menuntut perhatian. Maxim menembakkan beberapa peluru, tapi jaraknya meleset sedikit. Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri, menutup mata sebentar, dan mengingat prinsipnya fokus. disiplin. kontrol. “Tapi kenapa? bayangannya selalu datang?” gumamnya pelan, menatap target yang kini tampak kabur di matanya. “Wanita itu, terlalu berbeda. Terlalu tak terduga!!!" Dia menurunkan senjata sebentar, menepuk pelatuknya dengan frustrasi. Setiap latihan yang seharusnya menjadi ritual, kini berubah menjadi cermin dari pikirannya sendiri pikiran yang terus kembali ke Gwen. Bukan karena ketertarikan biasa, tapi karena cara Gwen mampu membaca situasi, keberanian yang tak terduga, dan sentuhannya. Maxim menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Ini tidak boleh menggangguku. Fokus!!! Prioritas tetap pekerjaan dan keamanan markas. Tidak ada yang lain,” bisiknya, menegaskan pada diri sendiri. Namun di sudut pikirannya, ia tahu bahwa Gwen bukan sekadar bayangan yang bisa ia abaikan. Malam ini, dan kemungkinan malam-malam berikutnya, dia akan terus menghantui Maxim bukan hanya sebagai misteri, tapi sebagai pengingat bahwa tidak semua bisa ia kendalikan. Jack, ajudan setia Maxim, berdiri di dekat ruang latihan menembak, memperhatikan bosnya dengan mata tajam. Ia sudah terbiasa melihat Maxim tenang dan fokus tapi malam ini berbeda. “Bos?” Jack memanggil pelan, suaranya canggung. “Apakah semuanya baik-baik saja? Biasanya Anda sangat fokus saat latihan.” Maxim menatap target di ujung lorong, menahan napas, mencoba menyingkirkan bayangan Gwen dari pikirannya. Ia menekan rahangnya, suaranya tetap tenang tapi terdengar sedikit tegang. “Semua baik, Jack. Hanya … ada gangguan kecil,” jawabnya, tidak menjelaskan lebih jauh. Jack mengerutkan alis, merasa ada sesuatu yang tidak biasa. “Gangguan kecil??? Maksud Anda bos?” Maxim menggeleng, menatap senjatanya sebentar, lalu kembali menyiapkan peluru. “Tidak penting. Fokusmu tetap di markas, bukan urusanku. Aku akan menyelesaikan ini sendiri.” Namun Jack tetap waspada. Ia sudah mengenal bosnya terlalu lama untuk tidak merasakan perubahan ini. Ada ketegangan yang berbeda di mata Maxim bukan karena pekerjaan, bukan karena ancaman, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat Jack penasaran, tapi juga tahu bahwa bertanya terlalu jauh bisa berisiko. Jack hanya mengangguk perlahan, tetap berdiri di samping, memperhatikan. Ia tahu, Maxim Romano bukan orang yang mudah terganggu, dan malam ini, jika bosnya bisa terganggu oleh sesuatu itu pasti berarti sesuatu yang besar dan tak terduga sedang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN