Maxim berdiri menyandar di dinding, jasnya masih rapi, ekspresinya kembali dingin seperti biasa. Jack mendekat, suaranya direndahkan. “Bos,” “Tidak di sini,” potong Maxim tanpa menoleh. Mereka berjalan beberapa langkah menjauh, berhenti di sudut lorong yang sunyi. “Dia sudah sadar penuh,” kata Jack. “Aku tahu.” “Dan ingatannya?” “Terpotong,” jawab Maxim singkat. “Dia mengingatku sebagai pelayan hotel. Biarkan begitu.” Jack mengangguk paham, meski alisnya sedikit berkerut. “Tidak ada yang mencurigakan sejauh ini. Catatan rumah sakit bersih. Namanya terdaftar sebagai pasien rujukan anonim." “Bagus.” Maxim menatap ke arah pintu ICU dari kejauhan. “Tidak satu pun orang Falcone boleh mengaitkannya denganku.” “Termasuk identitasmu, bos?” tanya Jack, memastikan. Maxim akhirnya menoleh.

