Bab 1. Mainan Baru
"Jadi, ini pahlawan yang Papa kirim?"
Suara itu terdengar malas sekaligus menghina. Bumi mendongak. Di balkon lantai dua, seorang gadis berdiri dengan gaun tidur sutra merah yang sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Rambutnya berantakan, tangannya memegang gelas berisi cairan bening.
"Nama saya Bumi, Nona," jawab Bumi tegas, berusaha tetap profesional meski tatapan Vanya seolah sedang menelanjangi status sosialnya.
Vanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar nakal. "Bumi? Nama yang cocok untuk orang yang memang tempatnya di bawah kakiku."
Bumi tidak menunduk. Ia juga tidak membalas dengan amarah yang meledak-ledak. Sebaliknya, ia justru mendongak, menatap langsung ke netra Vanya dengan keberanian yang tenang.
Bumi membasahi bibirnya yang kering, lalu menjawab dengan suara bariton yang berat dan stabil.
"Benar, Nona," ucap Bumi datar. "Tanah memang ada di bawah kaki Anda. Tapi jangan lupa, sejauh mana pun Anda melangkah atau setinggi apa pun Anda membangun gedung ini, kaki Anda akan tetap butuh tanah untuk berpijak agar tidak jatuh.”
Sesaat, Bumi melihat kilat keterkejutan di mata Vanya. Bumi tidak memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk membalas. Ia hanya memberikan anggukan hormat yang sangat formal, hampir terasa seperti ejekan halus lalu berbalik untuk mengangkat tas ranselnya.
"Saya akan menunggu perintah Anda di bawah, Nona. Di tempat saya seharusnya berada," tutup Bumi dingin sebelum melangkah pergi.
Vanya terpaku sejenak di balkon. Gelas di tangannya nyaris miring karena jemarinya mengeras. Ia tidak menyangka pelayan yang dibeli ayahnya itu punya keberanian untuk menceramahinya tentang filosofi pijakan kaki.
Biasanya, orang-orang akan menunduk takut atau mencoba menjilatnya. Tapi pria ini? Dia menatapnya seolah Vanya hanyalah gadis kecil yang sedang tantrum.
"Sialan," desis Vanya pelan, matanya menyipit menatap punggung tegap Bumi yang menjauh tanpa rasa takut.
“Dia sangat menarik.”
***
Malam Harinya – The Night Club
Bumi baru tahu kalau tugasnya bukan sekadar menjaga, tapi juga menjadi saksi keliaran sang Nona. Di sebuah VIP lounge yang pekak oleh musik EDM, Vanya duduk di tengah teman-temannya yang berpakaian minim.
"Eh, kenalin. Mainan baru dari Papa," tunjuk Vanya dengan dagunya ke arah Bumi yang berdiri tegak di pojok ruangan. Pastinya malam ini tak ingin membiarkan Bumi melakukan pekerjaan dengan mudah dan berharap pria itu akan menyerah saja.
Teman-teman Vanya tertawa. Salah satu pria berkemeja mahal berdiri, membawa segelas penuh vodka. "Katanya pengawal? Pengawal harus kuat minum, dong. Sini, habisin ini!"
Bumi diam, matanya melirik Vanya. Gadis itu justru menyandarkan punggungnya, menatap Bumi dengan senyum miring yang menantang.
"Minum, Bumi. Itu perintah," ucap Vanya santai sambil menyesap minumannya sendiri. "Atau kamu mau pulang ke rumah petakmu malam ini juga?"
Bumi mengertakkan gigi. Ia menerima gelas itu dan menenggaknya dalam satu kali tarikan. Tepuk tangan riuh terdengar, tapi Vanya belum puas.
"Lagi! Kasih dia lagi!" seru Vanya riang, seolah Bumi adalah atraksi sirkus.
Sepanjang malam, Vanya sengaja membiarkan teman-temannya mengerjai Bumi. Ia tertawa melihat Bumi yang mulai limbung namun tetap berusaha berdiri tegak demi tugas. Vanya terlihat seperti gadis nakal tanpa hati.
Namun, di saat musik semakin kencang dan semua orang mulai mabuk, Vanya sempat terdiam sejenak. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak akibat asap rokok dan alkohol, namun detik berikutnya ia kembali tertawa lebih keras seolah ingin mengulang rasa sakit yang mulai menyerang.
"Bumi..." panggil Vanya parau saat jam menunjukkan pukul tiga pagi.
Bumi yang kepalanya sudah berputar segera mendekat. "Iya, Nona?"
"Gendong aku ke mobil," bisik Vanya, tiba-tiba suaranya berubah manja, jauh dari nada angkuh tadi. "Jangan biarkan teman-temanku lihat kalau aku juga bisa... capek."
Bumi tidak tahu, di balik perintah jahil itu, Vanya sedang berusaha menyembunyikan tangannya yang mulai gemetar hebat.
***
Suasana koridor mansion yang sunyi hanya diisi oleh suara langkah sepatu bot Bumi yang berat. Di punggungnya, Vanya bersandar lemas, itulah yang Bumi pikirkan. Namun, saat mereka memasuki kamar tidur yang luas dan beraroma lily itu, Bumi merasakan jemari Vanya mulai bergerak nakal di sekitar lehernya.
Bumi menurunkan Vanya dengan hati-hati di tepi ranjang. "Tidur, Nona. Anda sudah minum terlalu banyak."
Saat Bumi hendak berbalik untuk pergi, sebuah tarikan kuat di dasinya membuat pria itu terpaksa membungkuk, menyeimbangkan tubuhnya tepat di depan wajah Vanya. Jarak mereka hanya beberapa senti. Napas Vanya yang beraroma alkohol dan parfum mahal terasa hangat di wajah Bumi.
"Siapa yang izinin kamu keluar, hm?" bisik Vanya dengan mata sayu yang provokatif.
Bumi tetap memasang wajah kaku, meski jantungnya berdegup kencang. "Tugas saya hanya mengantar sampai kamar."
Vanya tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat berbahaya. Tangannya turun dari dasi, meluncur perlahan menuju pinggang Bumi. Sebelum Bumi sempat bereaksi, jemari lentik itu sudah menyentuh kepala sabuk kulit hitam yang melingkar di celana kain sang pengawal.
"Nona, apa yang Anda lakukan?" suara Bumi memberat, ada nada peringatan di sana.
"Diam. Ini perintah," sela Vanya tajam. Sifat arogan dan manjanya menyatu, menciptakan aura yang sulit ditolak.
Vanya mulai menarik pengait sabuk itu dengan gerakan lambat, matanya menatap dalam ke netra Bumi, seolah sedang menantang harga diri pria itu. Bumi bisa merasakan dinginnya jemari Vanya yang bersentuhan dengan kulitnya.
"Nona Vanya, saya pengawal Anda, bukan mainan Anda," desis Bumi, tangannya mencengkeram pergelangan tangan Vanya agar berhenti.
Vanya tidak takut. Ia justru tersenyum miring, senyum yang menunjukkan kekuasaan penuh. "Kamu bilang Papa bayar mahal buat semua adikmu, kan? Kalau begitu, jadilah mainan yang penurut, Bumi."
Vanya menarik tangannya dengan sentakan kecil, lalu kembali fokus pada sabuk itu. "Aku cuma mau tahu... apa pengawal pilihan Papa ini punya titik lemah, atau kamu cuma robot tanpa perasaan?"
Klik.
Suara logam sabuk yang terlepas terdengar nyaring di kamar yang sepi itu. Vanya menarik sabuk itu hingga terlepas sepenuhnya dari celana Bumi, lalu melemparkannya ke lantai dengan sembarang.
Setelah suara sabuk logam itu menghantam lantai, Vanya melemparkan pandangan meremehkan. Ia menarik selimut sutranya, memunggungi Bumi seolah pria itu tak lebih dari seonggok sampah yang membosankan.
"Keluar. Aku sudah mengantuk," ucap Vanya dingin, suaranya kembali datar tanpa emosi.
Bumi berdiri kaku. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan gairah dan amarah yang bercampur aduk. Tanpa kata, ia memungut sabuknya di lantai, memasangnya kembali dengan gerakan cepat, lalu melangkah keluar.
Brak!
Pintu tertutup rapat. Begitu Bumi menghilang, pertahanan Vanya runtuh seketika.
Ia meringkuk, memeluk lututnya erat-erat. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena gairah, melainkan karena rasa sakit yang menghujam jantungnya. Efek racun alkohol yang dipaksakan tubuhnya semalam. Napasnya tersengal, jemarinya mencengkram sprei hingga memutih.
"Jangan sekarang... belum waktunya," bisiknya parau di tengah kesunyian kamar yang dingin.
Happy Reading
TBC