Beberapa Minggu Yang Lalu. Nino: Sibuk, Yal? Telpon urang geura. Pesan itu masuk ke nomorku sekitar tiga jam yang lalu. Aku menutup loker, lalu duduk di kursi seraya mengeringkan rambutku dengan handuk. Tombol panggil di nomor Nino pun kuketuk. “Wa’alaikumussalam,” ujar Nino. “Assalamu’alaikum,” balasku. “Kebalik nyak?” “Maneh yang suka ngebalik-balik,” sahutku. “Aya naon?” “Lah, maneh yang nelpon urang,” timpalnya. “Si koplok! Maneh yang nyuruh urang nelpon.” Nino malah terkekeh. “Maneh nggak mau ke Bandung, bro?” Keningku mengerut. Oh, sejak Yupi pergi, aku belum pernah lagi menginjakkan kaki di kota tersebut, juga Jatinangor. “Ngapain urang musti ke sana?” balasku. “Nanya aja,” tanggap Nino. “Maneh lagi di Bandung?” “Muhun. Jadwal nyari muka di depan calon mertua.” “Lam

