“Nda?” “Akang?” Kami sama-sama tertegun. Bandara yang sejak tadi terasa normal, seakan mendadak meredup. Orang-orang masih lalu-lalang, roda koper-koper tetap bergulir dan bergesek di lantai, announcement penerbangan silih berganti merambat di udara, tapi... perhatianku justru tertahan di satu titik. Kang Iyal. Ia berdiri di hadapanku. Dengan ransel di bahu dan ekspresi yang tak kalah kagetnya denganku. “Akang kok di sini?” gumamku. Mas Beni menoleh bergantian ke arah kami. “Lho? Kang Arial dan Kak Amanda sudah saling kenal?” Aku masih berusaha memproses kebetulan ini saat kekehan Kang Iyal akhirnya pecah. Tawa seseorang yang baru saja menyadari jika hidup memang suka bercanda seenaknya. “Kenal, Mas,” jawabnya. “Kok bisa?” tanya Kak Noura—salah satu peserta trip, seorang perempua

