“Akang?” “Nanti, Nda.” Kakiku berusaha mengikuti ritme langkahnya. Mataku menatap jemari kami yang saling bertaut. Jantungku berdetak begitu cepat. Namun... saat sisi samping wajahnya kupandang, ada gurat gusar di sana. Detik itulah aku tahu, ada sesuatu yang salah. “Akang... kita mau ke mana?” tanyaku saat kami menginjakkan kaki di travelator. Kang Iyal menatapku gamang. Ia tak fokus. Aku mencoba memandang lebih jauh ke belakang, melewati bahunya. Namun, ia justru bergeser hingga wajahnya menghalangi. Kami bertatapan lagi. Dan ekspresinya membuatku terenyuh entah untuk alasan apa. “Jangan dicari, Nda,” lirihnya. ‘Jangan dicari?’ Kuhela pelan udara dari paru-paruku. “Akang mau makan apa?” tanyaku kemudian, mencoba menarik fokusnya kembali. Tangan kami masih saling bergandengan d

