BAB 37

1865 Kata

“Akang? Papi?” Aku melirih. Langkahku terhenti di ambang pintu yang terbuka separuh. Dari sana, aku bisa melihat jelas punggung Kang Iyal yang duduk menghadap Papi. Aku bergeser sedikit lagi untuk bisa melihat sebagian wajahnya. Namun, ekspresi Papi yang terlihat lebih jelas justru membuat jantungku berdegup tak nyaman. Aku tak serta-merta masuk ke dining room. ‘Ada apa ya?’ Aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Bahkan sekadar potongan-potongan suara. Sepertinya, pembicaraan itu sangat pribadi. Tapi ada yang kutangkap jelas, gerak tubuh Kang Iyal saat menghela napas panjang. Ia pasti sedang membawa sesuatu yang berat. Sesuatu yang seharian ini ia simpan sendiri. Atau... sudah lebih lama lagi? Aku terdiam. Ada dorongan dalam diriku untuk melangkah masuk. Menyapa mereka, duduk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN