BAB 36

2009 Kata

“Harusnya Papa nggak bilang ini sekarang ya, Yal?” Lantas ke siapa Papa harus bicara? “Malah kalau Papa baru bilang setelah Iyal pulang, yang ada Iyal kesal sama Papa.” Aku menghela napas panjang. “Terus, rencana kita sekarang apa, Pa?” “Papa belum tau sih.” “Kepinginnya Papa gimana?” “Kalau hukuman untuk supir itu, Papa nggak terlalu sakit hati.” Beliau diam sejenak, yang kudengar hanya suaranya menarik napas. “Tapi perusahaan... Papa yakin ada unsur pembiaran sistematis. Supirnya jelas kok bilang kalau dia overworking.” “Gimana kalau Papa cerita ke Om Bondan? Mungkin beliau kenal orang yang bisa bantu kita.” Papa terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Aku sangat mengerti kegelisahan Papa. Beliau kehilangan putranya yang bahkan masih menerima telponnya beberapa menit sebelum kejadian

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN