“Bangun anak Mama, jagoan Mama, kesayangan Mama.” Aku tersenyum. “Iya, Ma. Iyal sudah bangun kok.” “Nanti Mama tutup kamu malah tidur lagi.” “Nggak, Ma.” Aku bangkit, duduk di ranjang dengan mata yang masih memejam. Lalu menguap. “Tuh kan!” suara Mama menyapa lagi. “Kayak Mama nggak hafal kelakukan kamu aja.” Mata kubuka, kamar masih gelap. Lampu di nakas kunyalakan, kemudian menepuk lengan Mas Beni yang masih pulas di ranjang sebelah. “Mas, bangun!” Kali ketiga kulontarkan kalimat yang sama, barulah ia merespon. “Hmm.” “Ayo siap-siap, Mas,” ujarku lagi. “Jam berapa?” balasnya. Layar ponsel kutatap sejenak. “05.05,” jawabku. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang. Kepalanya masih menunduk, menatap lantai. “Sudah bangun beneran nih?” tanya Mama kemudian. “Sudah, Mama.” “Mau ngapa

