“Tamatlah sudah alkisah kami. Terima kasih dan jumpa lagi,” dendang Papi. Tawaku makin geli. Kang Iyal mencengir sambil menggaruk kepalanya. Aku lalu menghapus jarak dengan Papi, memeluk beliau erat. Kecupan hangatnya langsung mendarat di keningku. Dan seolah disadarkan, Kang Iyal buru-buru mengulurkan tangannya, menyalam takzim ayahku. “Papi baru banget sampai?” “Iya,” jawab beliau. “Nda dari mana? Kok belakangan sampainya?” Langkah kami memang berlambat-lambat tadi, beberapa kali berhenti untuk berfoto di spot yang tampak dramatis dalam gelap, juga memotret langit. “Lihat sunset sama makan. Papi sudah makan?” “Belum.” Baru saja aku hendak menimpali, Mami muncul dari arah lorong toilet, mengenakan sweater emerald dan mantel panjang warna krem sebagai outer. Aku terkekeh. “Kompak

