“Papa sudah bicara sama Om Ian?” tanyaku lagi setelah hening yang cukup panjang. “Sudah. Malam ini Papa ke sana lagi.” “Iyal ikut, Pa.” “Kamu selesai praktik jam berapa?” “Jam lima, Pa. Iyal bawa motor kok.” “Oke.” Lalu hening lagi. Aku menunggu. Dan akhirnya Papa bicara lebih dulu. “Yal?” “Iya, Pa?” “Kalau nanti ini makin ramai… ignore aja berita-berita yang muncul ya, nak? Nggak usah dibaca.” Dadaku mengencang. Papa sepertinya sudah melihat ke mana arah ini bergerak. “Papa tau, nggak mungkin kita bisa tenang membaca narasi-narasi yang sengaja di-framming itu. Mending sekalian nggak lihat.” “Iya, Pa,” tanggapku. “Ya sudah, Papa mau salat dulu. Ada meeting jam satu.” “Oke. Nanti kabarin pas Papa mau jalan ke Om Ian ya? Iyal juga kasih tau Papa kalau selesai lebih cepat.”

