“Sekarang kita luruskan dulu,” ujar Om Ian. Ia menatap layar sejenak, mengangguk, lalu kembali menyapukan pandangannya ke aku dan Papa. “Banding itu bukan tempat kita masukin bukti baru.” Keningku langsung mengeryit. Aku menoleh ke Papa. Beliau masih tenang, tak ada gurat bingung di wajahnya. Sepertinya beliau jauh lebih paham perkara ini. “Maksudnya gimana, Om?” tanyaku. “Di tahap banding, hakim cuma akan lihat berkas yang sudah ada,” lanjut beliau. “Ditambah argumen dari kedua pihak.” “Terus... bukti yang kita punya sekarang nggak bisa dipakai, Om?” tanyaku lagi. “Bukan nggak bisa,” jawab Om Ian, tetap tenang. “Tapi bukan sebagai bukti formal di banding.” Keningku kian mengerut. “Terus untuk apa, Om?” “Untuk memastikan hakim nggak meringankan putusannya,” sahut beliau. Aku menga

