BAB 09

1963 Kata

“Sama Akang?” tanya Amanda. Hamdan menatapku dengan sorot mata yang menyebalkan, meledek tanpa bicara. “Akang mau nganterin Nda ke Sembalun?” ujar Amanda lagi. Belum sempat aku menjawab, Hamdan sudah menyambar duluan. “Diantar sampai puncak Rinjani, Kak.” Aku mengerjap. Apa aku saja yang merasa tengah terjebak dalam situasi yang membingungkan? Jika aku bilang tidak demikian, rasanya tak sopan. Jika aku bilang aku akan ikut hiking.... “Akang mau ikut hiking juga?” Amanda memiringkan wajahnya di depanku. “Iya,” jawabku otomatis. ‘Mulut sialan!’ Hamdan jelas-jelas mengatupkan bibir, menahan tawa. “Memangnya bisa ya registrasi hiking di tempat?” tanya Amanda lagi. “Kalau Nda kan sudah, online. Besok pagi tinggal briefing di basecamp.” “Nggak usah khawatir, Kak. Di saat beginilah the

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN