BAB 08

2111 Kata

Aku berlari. “KE KANAN, DOK!” teriak Hamdan dari ambang pintu puskesmas. Tanpa menoleh lagi, aku membelok ke arah kanan. Jalan desa siang itu tak terlalu ramai, namun cukup banyak orang yang membuatku harus melambat sesekali. Paperbag putih tadi tak kubawa, kubiarkan tergeletak tanpa kumasukkan kembali isinya. Namun, di jeda napasku, ada satu pertanyaan yang bergema di kepala... ‘kenapa aku mengejarnya?’ Sudah sepuluh bulan aku tinggal di Tetebatu, dan perempuan itu masih sanggup membuat jantungku seolah diremas rasa bersalah. Aku melewati warung kecil, beberapa rumah panggung, lalu persimpangan sempit menuju area parkir wisata di dekat deretan kios oleh-oleh. Di sana kulihat sebuah mobil hatchback abu-abu terparkir miring. Pintu bagasinya terbuka. Seorang gadis berdiri di sampingnya s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN