BAB 07

2532 Kata
“Ngopi dulu, Dok!” seru Papuq Ilham saat aku melangkah keluar dari masjid. Kabut pagi tak lagi terasa sekejam bulan-bulan pertamaku di Tetebatu. Tentu saja desa ini masih dingin, terkadang menusuk saat dini hari hingga subuh. Namun, tubuhku kini sudah benar-benar terbiasa. Aku bahkan mulai hafal kapan harus memakai sweater tebal, kapan cukup dengan hoodie, dan kapan sarung tangan tak lagi dibutuhkan. Sepuluh bulan di sini membuat banyak hal berubah. “Dokter Arial nggak ngopi, Amaq,” timpal Pak Hamdan. “Masih nggak ngopi?” balas Pupuq. “Memang sejak datang nggak pernah ngopi.” Pak Asraf yang menjawab. “Mana ada laki-laki nggak ngopi?” ujar Pupuq lagi. Aku duduk di antara mereka. Segelas jahe hangat diletakkan di hadapanku. Bukan kopi, karena sampai detik ini aku belum berani meneguk minuman ternikmat di dunia itu lagi. Ya, aku belum sembuh dari dukaku. Hanya mulai bisa meneruskan hidup dengan membawa luka itu. Dan anehnya, beku yang semula menutup hampir seluruh diriku, perlahan mulai retak di sana-sini. Obrolan mengalir. Temanya nyaris selalu sama. Tentang cuaca, hasil panen, anak yang demam, kambing yang lepas, atau siapa yang akan ke pasar Pringgasela begitu matahari terbit nanti. Aku masih tak banyak bicara. Hanya menjawab singkat jika ada yang bertanya. Terkadang kuselipkan sedikit senyum. Namun, mereka tak pernah bosan melibatkanku. “Pak Dokter jangan lupa, habis jogging mampir ke rumah. Istri saya bikin lempah nangka banyak banget,” ujar Pak Hamdan, lalu menyeruput kopinya lagi. “Tapi tolong bilangin ke Ibu, Pak. Saya tinggal sendiri, jadi cukup seporsi aja, jangan sepuluh porsi seperti terakhir kali,” jawabku. “Kerjaan saya jadi makan terus.” Beberapa orang spontan tertawa. “Bagus itu, Dokter, daripada murung terus,” timpal Ustaz Fathir. Aku menggaruk kepala yang tak gatal, lalu berdiri lebih dulu setelah menghabiskan isi gelasku. “Saya gerakin badan dulu.” “Silakan, Dok. Hati-hati, jalanan licin karena hujan semalam,” ujar Pak Asraf. Aku mengangguk, lalu melangkah meninggalkan masjid. Desa ini paling indah dilihat saat pagi masih muda. Langit belum terang seutuhnya, namun gelap mulai beranjak pergi. Hijaunya sawah di kiri-kanan seolah bertemu dengan langit uang mulai membiru di ujung cakrawala, sementara Rinjani diam-diam mengawasi. Aku berjalan cepat melewati jalanan desa yang kini terasa familiar. Benakku pun mengabsen. Aku sudah tahu siapa pemilik rumah yang memiliki pohon mangga besar di depan halamannya. Aku tahu warung mana yang buka paling pagi. Aku tahu anak-anak mana yang sudah mandi dan siap berangkat ke madrasah sebelum matahari naik. Dan aku juga tahu, begitu aku kembali ke rumah saat matahari mulai muncul utuh dari balik awan, seseorang biasanya sudah menungguku di pagar. Tebakanku tak salah. “Dokter Arial!” Iqbal berdiri di depan pagar dengan tas sekolah menggantung di pundaknya. Badannya sudah lebih tinggi daripada bulan-bulan pertama kami bertemu. Seragamnya rapi, rambut basahnya disisir klimis, sementara tangannya menjinjing keranjang bambu. Aku memperlambat langkah. “Assalamu’alaikum!” seru Iqbal. “Wa’alaikumussalam,” jawabku. “Ini dari Inaq Mira, Pak Dokter,” ujar bocah itu, dari istrinya Pak Hamdan. Aku mengintip isi keranjang, lalu menggaruk alis kananku. “Kok banyak banget?” “Kata Inaq Mira, ini cuma satu porsi.” Begitulah. Aku harus berolahraga lebih giat sejak bekerja di sini. Masyarakat yang tinggal di kaki gunung memang memiliki standar porsi yang jauh berbeda dari orang-orang yang terbiasa hidup di dataran rendah. “Jagungnya Iqbal yang masak,” ujarnya lagi. “Dua.” Aku menerima wadah itu. Semuanya masih hangat. “Terima kasih.” Iqbal mengangguk. “Yang satu besar, yang satu kecil. Yang besar buat Pak Dokter, yang kecil buat Iqbal.” Keningku mengernyit. “Jagungnya?” “Iya!” jawabnya. Bocah itu lalu nyelonong masuk ke halaman rumahku. Aku mengikuti langkahnya di belakang. “Pak Dokter ajarin Iqbal matematika. Biar Iqbal nggak dihukum Pak Juhlan.” “Iqbal ada PR?” “Betul!” Kekehanku pecah juga, singkat, lalu aku menghela napas pendek. Sudah hampir tiga bulan ini Iqbal punya kebiasaan baru. Ia datang membawa sarapan, lalu masuk ke teras rumahku, menungguku membukakan pintu. Di ruang tamu, ia akan menumpahkan isi tasnya. Terkadang ia memintaku membantunya mengerjakan PR sebab kedua orangtuanya tak paham pelajarannya, terkadang ia sibuk menghafal surat, dan terkadang ia menggambar hal-hal yang terbersit di pikirannya—kebanyakan berhubungan dengan kesehatan gigi. Gambar-gambarnya yang lucu. Ada gigi dengan akar yang lebih mirip wortel, ada alat-alat yang lalu ia beri nama namun ditulis dengan ejaan kacau, ada si Dokter Gigi yang kepalanya lebih besar dari tubuhnya. Namun, terkadang ia tak melakukan apa pun selain menyesap s**u coklat yang kubuatkan dan mengunyah sarapannya. Biasanya, ia akan melontarkan pertanyaan lucu. Seperti saat ini. “Kalau jadi dokter gigi, Iqbal boleh tetap main bola nggak?” “Boleh. Dokter gigi juga harus rutin olahraga,” jawabku. Pernah suatu kali aku bertanya kenapa ia tiba-tiba ingin menjadi dokter gigi. Jawabannya sungguh sederhana. “Biar bisa benerin gigi orang kampung gratis. Dan kalau Pak Dokter pindah nanti, Iqbal yang gantiin.” Sejak itu, aku tak pernah lagi terkekeh mendengar keseriusannya. Ia meletakkan gelas susunya, lalu membuka buku tulis bersampul coklat dengan nama dan mata pelajaran tertulis di bagian depan. “Mana yang Iqbal nggak paham?” tanyaku. “Ini, Pak Dokter,” jawabnya seraya menunjukkan beberapa nomor soal pengurangan bersusun. Aku mulai menjelaskan, memberinya soal-soal yang kubuat sendiri sebelum ia mengerjakan Prnya. “Susah ya,” keluhnya. “Nggak susah. Mudah,” sanggahku. “Kalau nilai matematika Iqbal jelek, apa bisa jadi dokter gigi?” “Bisa. Tapi harus belajar dan berusaha supaya nilainya matematikanya tidak jelek lagi.” “Nanti Iqbal lama sekolahnya gimana?” “Saya sekolahnya juga lama,” tanggapku. “Pak Dokter nggak pintar waktu SD?” Aku tersenyum. Iqbal terkekeh. “Kata Mama, Pak Dokter jarang senyum. Tapi sama Iqbal tidak.” “Mama Iqbal bilang gitu?” “Iya. Amaq bilang supaya Iqbal sering lihat Pak Dokter.” Ayahnya yang ia maksud. “Tapi, Iqbal nggak boleh merepotkan. Iqbal pintar kan, Pak Dokter?” Aku mengangguk. “Sangat. Iqbal sangat pintar,” jawabku. Lalu aku tersenyum lagi, teringat ibunya yang datang beberapa hari lalu ke Puskesmas, membawakan roti jala dan kari ikan. Beliau meminta maaf berhubung anak sulungnya terus menggangguku. “Maaf ya, Pak Dokter. Iqbal memang begitu kalau sudah suka sesuatu. Sekarang sukanya dokter gigi, lagi ngefans sama Pak Dokter.” “Tidak mengganggu, Bu,” jawabku waktu itu. Dan memang begitu kenyataannya. Yang menggangguku justru ketika suatu pagi ia pernah tak datang. Aku membiarkan pintu rumah ini terbuka lebar, bersiap sambil menoleh ke pagar berkali-kali seperti orang bodoh. Dan saat siangnya aku mendengar jika bocah itu demam, aku lari terbirit-b***t ke rumahnya, hendak memastikan sendiri kondisinya. “Terima kasih, Pak Dokter,” ujarnya sambil meraih tanganku, menyalam takzim. “Kalau Pak Juhlan kasih Iqbal bintang, nanti Iqbal tunjukkan ke Pak Dokter.” “Oke!” sahutku. Setelah bocah itu berangkat ke sekolah, aku mandi, berganti pakaian, lalu berjalan ke puskesmas. *** Suasana puskesmas di desa ini tak pernah sepi, namun aku mulai terbiasa dengan ritmenya. Bahkan kini aku tahu siapa ibu-ibu yang kerap datang bukan hendak berobat, melainkan untuk memastikan tekanan darah tetangganya sudah kembali normal. Ada juga yang gemar membawa buah tangan dan menolak pulang sebelum semua orang ikut makan. Tak ketinggalan, mereka yang paling cerewet soal jam makan para dokter. Begitu aku melangkah masuk, Bu Rukmini—yang gemar membawa buah tangan—spontan memicingkan mata ke arahku. Ia tak menggunakan kacamatanya lagi. “Dok, sarapan apa tadi?” “Jagung dan lempah nangka, Bu,” jawabku. “Jagung lagi?” serunya. Sari yang tengah menulis di meja tertawa. “Iqbal masak lagi, Dok?” Aku mengangguk. “Iqbal si fans utama Dokter Arial,” ujar Aster dari ruangan sebelah. Aku menoleh ke arahnya. Ia tengah menyalakan laptop sambil merapikan jilbabnya. “Alhamdulillah,” tanggapku. “Memangnya cukup makan jagung saja, Dok?” tanya Ibu Rukmini lagi. Ia mendekatiku, meletakkan bungkusan berisi beberapa kue tradisional ke tanganku. “Kalau masih lapar, tinggal bilang. Jangan sok mandiri.” Aku tersenyum simpul. “Iya, Bu. Terima kasih.” “Oh, sambalnya ketinggalan.” “Bu, nggak usah,” sergahku. “Sudah sepuluh bulan di sini masa masih belum bisa makan sambal asli sini sih, Dok,” sela Sari. Aster tergelak. “Bu, Dokter Arial ini level cabainya anak TK. Minggu kemarin makan ayam taliwang satu suap langsung cari s**u. Kalau air putih ngga mempan hilangkan pedas katanya.” Aku menatap mereka satu per satu. “Tapi saya tetap makan.” “Tapi sambalnya Dokter pindahin ke piring saya,” balas Sari. Aster tertawa kian geli. Aku mendecak. Bu Rukmini menepuk punggungku, lalu berlalu begitu saja. Entah sejak kapan, perhatian-perhatian mereka tak lagi membuatku ingin menjauh. Barangkali karena orang-orang di desa ini menunjukkannya tanpa beban. Tanpa rasa ingin tahu yang berlebihan. Tanpa memaksaku menerima atau menjawab. Mereka hanya selalu hadir, meski kadang menjaga jarak saat aku tak ingin ditemani. Dan untuk seseorang sepertiku, rupanya kehadiran yang sederhana sudah cukup menolong. Hari itu praktik berjalan lancar. Seorang anak kecil yang menangis keras karena takut dicabut giginya. Seorang ibu muda dengan gusi bengkak. Seorang bapak yang keras kepala dan menolak mengurangi manis-manis padal giginya sudah banyak yang copot otomatis karena diabetes. Juga seorang nenek yang datang sekadar untuk memastikan gigi palsunya tetap di tempatnya. Menjelang sore, Pak Asraf mampir ke ruanganku. “Dok, nanti jangan langsung pulang. Kita jalan-jalan sebentar, lihat laut dari bukit. Mumpung cuaca lagi bagus.” “Lihat laut, Pak?” “Iya. Ada spot kecil di bukit atas. Kalau sore pas cerah dan ngga berkabut, pemandangannya cantik sekali.” Aku mengangguk. Kami berangkat begitu jam kerja usai. Jalan yang kami lewati sedikit menanjak, lalu berbelok ke area yang lebih tinggi dari desa. Jendela-jendela terbuka, udara sore yang begitu sejuk mengalir di dalam kabin. Sementara di luar sana, cahaya matahari mulai melembut. “Dari sini kalau lagi cerah banget, lautnya kelihatan, Pak Dokter,” ujar Pak Hamdan bersemangat. “Mudah-mudahan rezeki.” Benar saja. Sesampainya di tempat itu, aku berdiri diam cukup lama. Takjub. Di kejauhan, permadani biru itu membentang. Bukan laut yang dekat dan ombaknya berdebur keras, namun hamparan jauh yang hening, datar, dan seakan tak berujung. “Bagus, kan Dok?” tanya Sari. Aku mengangguk. “Jangan bilang cuma lumayan,” timpal Pak Asraf. Senyumku lolos tanpa dipaksa. “Bagus banget,” tanggapku. “Naah,” ujar Hamdan, ekspresinya terlihat puas. Mereka semua tampak senang hanya karena aku ikut menikmati pemandangan indah ini. Orang-orang ini tak pernah menuntut banyak dariku, namun ketulusan mereka tak pernah bisa kuabaikan. Beberapa menit kemudian yang lain sibuk memotret. Aku memilih duduk sedikit menjauh di atas batu datar. Angin meniup rumput-rumput pendek di sekitar kakiku. Lalu, Aster datang dan duduk tak terlalu jauh dariku. Ia tidak langsung bicara. Aku juga tidak. Kami sama-sama menatap laut dan pemandangan hijau yang belum disembunyikan kabut. “Dok?” tegurnya akhirnya. Aku menoleh. “Boleh tanya sesuatu?” Aku tak menjawab. Aster tersenyum simpul, namun dari sudut bibirnya yang bergetar dan sorot matanya, aku tahu ia gugup. “Dokter... apa punya seseorang di Jakarta?” Aku diam. Meski aku paham apa yang ia maksud dengan seseorang. Pertanyaan itu sama sekali tak mengejutkanku. Mungkin karena cepat atau lambat, seseorang memang akan bertanya. Jika mereka sungkan mengorek latar belakang keluarga atau masa laluku, mungkin soal pasangan aku tak akan terlalu tertutup. Minimal, jawaban jujur akan mempertegas batas. “Dokter nggak perlu menjawab kalau tidak nyaman,” ujar Aster lagi. “Maaf jika Dokter merasa saya lancang.” Aku menghela napas pelan. Masih menatap lurus ke depan. “Iya. Saya kurang nyaman membicarakan urusan hati.” Aster mengangguk. “Saya bisa mengerti.” Setelahnya, hening menyusup di antara kami. Ia berdiri duluan beberapa saat kemudian sambil menepuk-nepuk lembut celananya. “Oh, saya sebenarnya ingin mendengar pendapat Dokter.” Aku menatapnya. “Soal apa?” “Kata orangtua saya, saya sudah terlalu matang untuk menikah. Kalau ditunda lagi, yang ada busuk. Jadi, mereka berencana menjodohkan saya.” “Lalu?” “Kalau Dokter jadi saya, apa Dokter akan menerima dijodohkan?” “Tidak!” jawabku tegas. Aster terdiam. Mungkin kaget melihat sikapku yang tiba-tiba kaku. “Baik. Terima kasih, Dok.” Ia lalu berjalan kembali, bergabung dalam sesi foto-foto dengan yang lain. Aku tetap duduk di sana, memandang laut di kejauhan yang perlahan kehilangan warnanya. Kabut mulai mengisi lembah. Lalu senja turun perlahan. Kala langit seakan menyala, bara di hatiku kembali memerah karena memori yang tercungkil pertanyaan Aster tadi. “Om Bima nanya, apa aku serius.” “Terus, Akang jawab apa?” “Serius.” “Ayah cuma nanya itu?” “Kalau serius, kapan aku mau menikahi kamu.” “Nikah?” “Kamu belum mau ya?” Ia menatapku lekat. “Mau, Akang.” “Serius? Aku tinggal nunggu surat izin praktik aja, Rin.” “Hmm.” “Kita tunangan dulu deh, nikahnya setelah kamu lulus. Gimana?” “Oke.” Kami terdiam. Hening mengisi ruang di sekitar kami. “Erin?” “Ya, Kang?” “Kamu... apa mencintai aku?” Ia tak langsung menjawab. “Akang nggak percaya sama Erin?” balasnya kemudian. “Aku cuma khawatir kamu jadian sama aku karena takut bikin hubungan kerja antara ayah kita nggak kondusif,” jelasku. Erin terkekeh singkat. “Cinta kok.” Dan entah kenapa, baru sekarang aku sadar, ia mengucapkan kata cinta dengan entengnya, seolah itu hanyalah sebuah diksi tanpa unsur emosi di dalamnya. Sebodoh itulah aku. Senaif itulah aku. Pantas saja ia begitu mudahnya bermain kotor di belakangku. *** Esoknya, hariku berjalan biasa saja. Hanya saja menjelang tengah hari, seorang pasien datang dengan kondisi yang cukup rumit; gusi bengkak, infeksi, dan ketakutan yang kelewat besar. Proses perawatannya memakan waktu lebih lama dari yang kukira. Saat semua selesai, waktu istirahat sudah lewat nyaris setengah jam. Aku membuka gloves, mencuci tangan, lalu keluar dari ruang praktik. Semua mata langsung tertuju padaku. Jantungku tiba-tiba saja berdebar. “Sudah selesai, Dok?” tanya Pak Asraf. Aku mengangguk. Beliau lalu menunjuk meja kecil di sudut ruangan. Di sana, tergeletak sebuah paperbag putih dengan pita merah. “Ada titipan buat Dokter Arial,” ujarnya. “Buat saya?” balasku, sangsi. “Iya.” ‘Kenapa pada ngelihatin urang aneh begitu sih? Memangnya nggak boleh dapat paket?’ Aku mendekat. “Yang nganter cantik banget, Dok,” ujar Aziza, salah satu perawat lain di sini. Keningku mengeryit. “Siapa?” “Tadi saya tanya, tapi kakak itu bilang, ada pesannya di dalam tas,” jelas Pak Asraf. “Lihat saja dulu.” Aku membuka paperbag itu sedikit. Aroma roti manis langsung tercium. Ada dua roti isi favoritku dari bakery favoritku di Jakarta. Ada juga kotak kecil berisi kudapan asin dengan penyajian cantik yang sangat kukenal. Dadaku bergemuruh. Jemariku meraih secarik kertas di dasar tas itu. Tulisannya singkat. Titipan Mama. Lalu di bawahnya ada keterangan lain. Amanda. Aku terdiam sejenak menatap nama itu. Lalu menoleh pelan ke arah semua orang yang masih memperhatikanku dengan rasa penasaran yang jelas tak bisa mereka tutupi. Jantungku berdebar lebih cepat. Aku mengangkat kertas kecil itu ke udara. “Yang ngantar ini, sudah lama?” “Lima belas menit yang lalu. Kalau Dokter lari, mungkin masih terkejar,” ujar Aster. Aku mengangguk, lalu benar-benar berlari. “KE KANAN, DOK!” pekik Hamdan saat persimpangan berada di depanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN