“Hati-hati, Nda.” Sepertinya, ia sangat memperhatikan gerak-gerikku, bahkan menapak di stepping minibus saja diawasi. Yang menyebalkan, bibirku malah refleks tersenyum. Bukan menanggapi sikapnya, namun refleks kegeeran. Kendaraan kami meluncur meninggalkan hotel sesuai jadwal. Mas Beni duduk di depan, sesekali menjelaskan rute perjalanan hari ini. Suara dan pembawaannya santai, seolah sudah hafal betul ritme tempat yang ia bawa. “First stop, Osh Bazaar, salah satu pasar terbesar di Bishkek.” “Kenapa ke pasar dulu, Mas?” tanya Musa. “Karena kalau mau kenal satu kota dengan cepat… lihat aja pasarnya. Osh Bazaar itu lengkap, dari mulai makanan lokal, buah-buahan, roti, sampai barang sehari-hari warga sini.” Ia menaik-turunkan alisnya singkat. “Jadi bukan cuma belanja ya, tapi kita sek

