“Sibuk, Mas?” Aku menyampirkan handuk di bahuku, beringsut ke sudut meja, mengisi air ke ketel listrik. Teman sekamarku itu tampak begitu serius beradu tatap dengan layar laptop. Memang kami sekamar. Saat memberi price list ter-update, ada dua opsi yang bisa kupilih. Kamar sendiri, namun dengan harga yang lebih tinggi. Atau satu kamar berdua dengan keterangan ‘tapi sekamarnya sama saya, Kang.’ Dan aku memilih opsi kedua, terlebih ini bukan trip pertamaku bersama Mas Beni. “Ada laporan aja dikit, deadline-nya sih masih lusa, tapi kan saya juga kepingin main,” jawab Mas Beni. “Meski sudah berkali-kali ke sini, tetap aja berasa sayang kalau nggak nikmatin jalan-jalannya ya, Mas?” “Pastinya.” Aku memasukkan teh ke tea ball infuser, menyeduhnya dengan air mendidih. “Nggak ngopi, Dok?” t

