“Bakal muncul nggak tuh si Kak Zoya?” gumam Amanda. “Caper banget heran!” sambatnya kemudian. Aku terkekeh. “Akang ih, ketawa mulu!” Ia lanjut mengomel. “Ya Nda ngelawak melulu,” balasku. Ia tak langsung membalasku, tatapannya justru melewatiku, ke seberang kursi kami. “Sakit, Bang?” tanyanya ke Yuji. “Agak pusing aja sih. Cuma nggak kepingin acara hari ini keganggu, makanya gue minum obat,” jawab Yuji. “Nanti tuh treknya landai,” ujar Mas Beni. “Tapi, karena cuaca lumayan dingin dan faktor ketinggian, udara pasti lebih tipis. Jadi, kalau nanti makin pusing, biarpun nggak parah, harus langsung bilang ya?” “Siap, Mas,” tanggap Yuji. Aku memperhatikannya, mendapati benjolan di lehernya. “Leher lo kenapa?” tanyaku. “Oh, nggak tau nih, Dok,” sahutnya. “Sudah ke internist padahal, ngg

