DELAPAN PULUH TUJUH

1286 Kata

Xavier membenarkan kacamata hitam yang dirinya kenakan. Anak itu berhenti sebentar. “Ih,” decaknya membuat Niel juga tak lagi melangkah di depannya. Pria itu memutar tubuhnya demi melihat tingkah si kecil. “Papa, Api cah niy!” gerutunya mengadu, jika dirinya kesulitan karena kacamata yang selalu melorot ke bawah. Niel mencebikkan bibir. Ia kan sudah bilang agar Xavier mengenakan kacamatanya sendiri. Namun anaknya tidak mau. Ngeyel sih bocah satu itu. Tambengnya nggak ketulungan walau masih bayi. “Makanya kamu jangan ngadi-ngadi! Kalau dibilangin Papa tuh nurut Xavi! Itu kan punya Opa kamu!” “Api, nak Papa!” Ya apa konotasinya, susah dibilangin sama anak papa, coba?! Kecil-kecil sudah pinter ngeles ini hasil ena-enanya. Perasaan dulu Niel genjotnya penuh perasaan deh, kenapa yang lahir

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN