DELAPAN PULUH DELAPAN

1336 Kata

“Papa, tuw Dek?” Xavier menunjuk hot wheels yang tergantung pada rak minimarket. Anak itu berkeras pada pemahaman mandirinya. Mengklaim bahwa seorang adik adalah mainan yang dapat dirinya beli di Indomaret. Zeusyu sudah mencoba memberikan pengertian, tapi tak juga berhasil. Anak mereka malah menangis, membuat omanya naik ke lantai dua sembari membawa sebuah sapu. Nenek-Nenek bercucu enam itu mengira jika Niel menjahili Xavier sampai cucunya menangis hebat. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Niel dan Zeusyu lah yang ingin menangis berjamaah karena ketambengan haqiqi anak mereka. “Tuw ga, Dek?!” “Bukan Xavi! Itu mainan. Adek nggak dijual disini. Harus dibuat sama Papa dulu.” “Diacak?” Dimasak— tanyanya begitu polos. Niel berdecak hebat, “ya nggak dimasak juga! Kamu kira adek kam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN