Telapak tangan kecil Zeusyu terasa sangat pas di dalam genggamannya. Niel merasakan kenyamanan yang membuat hatinya menghangat. Tangan itu berada di atas dadanya dengan sang istri yang berbaring pada rengkuhan tubuhnya. Wanita cantik itu sudah berusaha begitu keras untuk menenangkannya dari kemarahan. Bagaimana ia tak tersentuh jika rasa hangat terus membakar lubuk hatinya karena kelembutan tutur katanya. “Jangan diulangin lagi, ya? Nggak baik bentak-bentak orang kayak gitu, Niel.” See? Betapa sempurnanya Tuhan menciptakan wanita ini. Untuk seseorang yang pernah menjadi penyebab kehancurannya saja, ia masih berbaik hati membela. Entah terbuat dari apa hatinya itu. Mengapa tak ada sedikit pun dendam yang bersarang setelah apa yang dirinya dan Meyselin lakukan di masa lalu. “Kita move on

