LIMA PULUH DUA

1241 Kata

“Lupakan masa lalu untuk masa depan. Sesuatu yang terjadi kemarin tidak dapat kita ubah, tapi apa yang akan terjadi besok, masih bisa kita rencanakan.” Satu minggu telah berlalu sejak pingsan-nya Zeusyu. Kondisinya yang memprihatinkan membutuhkan banyak dukungan. Beruntung Zeusyu merupakan putri kesayangan di keluarga Tirto. Setiap orang memberikan perhatian serta meluangkan waktu secara bergantian. Mereka menginginkan kesembuhan mental Zeusyu. “Zeu inget kan kata Oma?” Wanita muda itu menganggukkan kepalanya. Mulutnya terbuka mengulang kalimat Sukma. “Apa yang tidak menjadi takdir Kak Meyselin itu bukan tanggung jawab Zeu, Oma.” Garis takdir— begitulah perkataan Sukma sebelum dirinya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Terdapat sebuah garis yang tidak satu pun manusia bisa ubah. Se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN