“Eh, Reza, kok ada di sini?” seruku saat melihat anakku berada di depan kantor kecamatan. “Sengaja nunggu ibu pulang,” balas Reza setelah mencium tangan dan keningku. “Ada apa, Sayang? Tumben, hehehe?” Kembali aku bertanya. Tak biasanya dia menjemputku pulang kecuali jika aku memintanya. Hah, sungguh beruntung sekali tadi aku menolak ajakan Decky untuk jalan bareng saat akan keluar. “Reza mau ngajak ibu makan, boleh gak?” tanya Reza dengan ekspresi wajah yang sangat serius dan datar. “Mau ngajak makan, ada apa, Nak?” tanyaku semakin heran dan kedua mataku intens memandangi sekujur tubuhnya yang terkesan agak resmi dengan kemeja, celana jeans hitam senada dengan sneakernya. Anaku memang sangat ganteng, apalagi kalau sudah berdadan begini. “Eza punya rizki dikit, bolehkan, Bu?” Rez