“Gak mampir dulu, Ndri?” tanyaku saat hendak turun dari mobilnya. “Gak usah, udah malam Teh. Salam aja buat Reza,” balasnya dengan tatapan yang terus tertuju ke depan. Tampaknya dia memang sudah benar-benar tak memiliki hasrat lagi untukku, bahkan untuk sekedar menolehkan pandangan. Aku segera turun dari mobil tanpa banyak basa-basi kembali. Berjalan menuju rumahku dan kudengar mobil fortuner yang dikendarai Andri, berbalik arah lalu melaju dengan kencang meninggalkanku yang sedikit melongo. Aku menarik napas lega, seraya membalikan badan karena Reza anakku sudah berada di balik pintu dan membukakannya untukku. “Andrinya kemana, Bu?” tanya dia seraya mencium tanganku. “Pulang dulu, kayanya mobilnya mau dipakai Haji Lukman,” jawabku memberi alasan. Reza tak banyak lagi bertanya. Alasan