Radhi menggendong Nakia dari pantai sampai ke kamarnya. Mereka seperti orang kasmaran yang lupa keadaan. Entah ada yang melihat kebersamaan mereka atau tidak, Nakia tidak peduli. Yang ada di kepalanya sekarang hanya ingin melanjutkan ciuman yang sempat tertunda. Nakia mabuk kepayang oleh sentuhan bibir suaminya. Rasanya sudah lama sekali dan ini adalah reuni mereka, reuni yang sangat intens tentunya. “Turunkan aku,” pinta Nakia lirih setelah Radhi mengunci pintu. Setelah Radhi menuruti keinginan Nakia, dia berbalik dan kini mereka berhadapan. Perbedaan tinggi bandan itu kentara, Nakia terlihat kecil, hanya sebatas dagunya saja. “Ki, Abang—” Nakia membungkam Radhi dengan bibirnya. Kedua tangan Nakia mengalung di leher Radhi, kakinya berjinjit berusaha menyeimbangi, tetapi Nakia tetap sa