BAB 21

1377 Kata

Kanya berdiri terpaku, membiarkan sepasang matanya menghunus tajam ke arah laki-laki yang berdiri hanya beberapa meter di hadapannya. Kebencian yang selama ini ia tekan di dasar hati mendadak meluap, menciptakan rasa panas yang menjalar hingga ke ujung jemari. Bertahun-tahun telah berlalu sejak perpisahan tragis itu, namun sisa-sisa dendam ternyata belum juga musnah; justru terasa semakin pekat dan menyesakkan d**a. Kanya memperhatikan setiap inci perubahan pada diri Dodi, laki-laki yang dulu pernah menjadi pusat dunianya. Penampilan Dodi sudah jauh berbeda dari memori yang selama ini Kanya simpan. Tanda-tanda penuaan kini terpampang nyata tanpa bisa ditutupi lagi. Perutnya yang dulu rata dan atletis kini tampak membuncit, menekan kancing kemejanya yang terlihat sesak. Wajah yang dulu dip

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN