Kanya berdiri terpaku, membiarkan sepasang matanya menghunus tajam ke arah laki-laki yang berdiri hanya beberapa meter di hadapannya. Kebencian yang selama ini ia tekan di dasar hati mendadak meluap, menciptakan rasa panas yang menjalar hingga ke ujung jemari. Bertahun-tahun telah berlalu sejak perpisahan tragis itu, namun sisa-sisa dendam ternyata belum juga musnah; justru terasa semakin pekat dan menyesakkan d**a. Kanya memperhatikan setiap inci perubahan pada diri Dodi, laki-laki yang dulu pernah menjadi pusat dunianya. Penampilan Dodi sudah jauh berbeda dari memori yang selama ini Kanya simpan. Tanda-tanda penuaan kini terpampang nyata tanpa bisa ditutupi lagi. Perutnya yang dulu rata dan atletis kini tampak membuncit, menekan kancing kemejanya yang terlihat sesak. Wajah yang dulu dip

