bc

Tergoda Berondong Kamar Sebelah

book_age18+
19
IKUTI
1K
BACA
family
HE
age gap
independent
heir/heiress
drama
sweet
bxg
campus
city
highschool
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Kanya Anindita adalah personifikasi dari iced americano: dingin, kuat, dan meninggalkan jejak pahit bagi mereka yang tak sanggup menyesapnya. Di usia menjelang tiga puluh, ia telah membangun benteng baja di sekeliling hatinya. Baginya, laki-laki hanyalah variabel pengganggu yang penuh pengkhianatan—seperti pria yang dulu menghancurkan bisnis keluarganya dan harga dirinya sekaligus.

Sampai ia bertemu dengan tetangga apartemen barunya.

Arkananta Danadyaksa adalah mahasiswa Teknik Kimia yang delapan tahun lebih muda, dengan rambut yang sering basah terkena hujan dan tatapan yang terlalu jujur. Arka terlihat polos, kikuk, dan mudah tersipu—tipe pria yang seharusnya tidak masuk dalam radar Kanya. Namun, di balik wajah "anak kuliah" itu, Arka menyimpan misi rahasia untuk merebut kembali kerajaan bisnis ibunya yang dikuasai sang ayah.

Kanya hanya berniat menggoda Arka sedikit—permainan kecil di depan lift untuk mengusir penat pekerjaan. Namun, ia tidak menyadari bahwa Arka bukan sekadar pemuda manis yang bisa ia kendalikan. Di bawah pendar lampu koridor, Arka menunjukkan bahwa ia memiliki tekad yang sanggup meruntuhkan benteng terkuat Kanya.

"Aku tidak sedang bermain-main, Kanya. Dan aku tidak semuda yang kamu pikirkan," bisik Arka, menghapus jarak yang selama ini Kanya jaga dengan ketat.

Di tengah gugatan hukum yang kembali membayangi bisnis skincare-nya dan intrik balas dendam Arka terhadap masa lalunya, keduanya terjebak dalam taruhan yang berbahaya. Apakah Kanya akan membiarkan Arka menjadi partner yang setara dalam hidup dan ambisinya, ataukah perbedaan delapan tahun ini hanyalah awal dari pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
“Kenapa aku selalu nurut, padahal akhirnya aku yang menanggung dingin begini?” Kanya menggerutu sendiri sambil mendekap dirinya yang mulai merasakan udara dingin disekitarnya. Hujan turun deras mengguyur tanah dan bangunan. Diselingi oleh angin yang bertiup kencang, membuat malam makin terasa dingin membekukan tulang. Di jalanan, kendaraan yang berlalu lalang memercikan air ke sudut-sudut trotoar dan membasahi warung-warung pinggir jalan dengan air kotor yang berasal dari kubangan. Sebuah apartemen berdiri megah di antara rumah-rumah penduduk, air hujan seakan sedang mencuci temboknya. Kanya Anindita menatap suasana malam di depannya dengan perasaan menyesal karena tidak membawa payung. Padahal, apartemenya berada tepat di depan matanya. Ia mendesah kesal dengan sebatang rokok terselip di bibir yang terpoles lipstik merah. Matanya menerawang pada lampu-lampu yang menyala redup di antara curah hujan, dengan aroma tanah basah bercampur bau apak dari ruko tempatnya bernaung terasa menyengat. Ia mengutuk dalam hati, karena tidak menolak saat sahabatnya menurunkan di pinggir jalan. Angela hanya bilang ada masalah penting, tidak mau repot menurunkannya di lobi. Ia setuju tanpa banyak kata, tidak menyangka hujan akan turun. Kini, ia berdiri sendirian di depan sebuah ruko yang sudah tutup, menunggu hujan reda. Sebuah angkot berhenti di depan ruko. Dari dalam, seorang laki-laki turun tanpa payung. Ia menutupi kepala dengan tangan, berlari kecil, lalu berhenti di samping Kanya. Tidak ada sapaan. Kanya hanya melirik sambil mengisap rokok, sementara laki-laki itu sibuk mengelap rambut dan bajunya yang basah. Mereka berdiri berdampingan cukup lama. Jalanan tetap sepi, hanya suara hujan dan sesekali kendaraan lewat. Kanya merasa canggung, tapi tidak berniat membuka percakapan. Laki-laki itu juga diam, seolah sama-sama menunggu sesuatu yang tidak jelas. Tiba-tiba petir menyambar, kilat terang membuat suasana tegang. Laki-laki muda itu terkejut, refleks memeluk pundak Kanya. Kanya kaget, tidak sempat bereaksi. Hanya tatapan singkat yang membuat suasana berubah, seakan hujan membawa mereka ke dalam momen yang tidak direncanakan. “Takut petir, Boy?” tegur Kanya pelan. Teguran Kanya membuat laki-laki muda itu secara otomatis melepaskan pegangannya dan bergumam lirih. “Maaf.” “Santai aja, banyak kok orang takut petir.” Kanya melirik laki-laki di sampingnya yang berdiri kaku menatap jalan raya. “Kamu tinggal di apartemen itu juga?” tanyanya basa-basi. “Iya.” “Kamu bisa lari ke sana biar lebih cepat sampai. Aku nggak mungkin karena pakai sepatu hak tinggi.” Seakan ingin menegaskan perkataan Kanya, laki-laki muda itu melirik kakinya. Tidak ada percakapan, hanya dua orang asing berdiri berdampingan di bawah hujan. Aroma tembakau menguar setiap kali Kanya mengisap rokok, membuat udara semakin berat. Hujan turun semakin deras. Suara air menutupi hampir semua bunyi lain, kecuali sesekali kendaraan melintas. Kanya tetap diam, sementara laki-laki muda itu sesekali mengusap wajahnya yang basah. Tiba-tiba guruh terdengar lebih keras, kilat menyambar dinding ruko di depan mereka. Kanya terkejut, hampir kehilangan keseimbangan. Laki-laki muda di sampingnya spontan meraih pundaknya, memeluk tanpa permisi. Alarm mobil dari parkiran apartemen berbunyi bersahut-sahutan, menambah kekacauan suasana. Kanya hanya menatap sekilas, tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Hujan, petir, dan pelukan mendadak itu membuat momen terasa janggal, seakan waktu berhenti sejenak di depan ruko yang sepi. “Mau sampai kapan kamu meluk aku?” tanya Kanya selang beberapa saat berlalu. “Maaf.” Laki-laki itu melepaskan pegangannya dengan malu. “Belum lebaran, jangan minta maaf terus.” Kanya merogoh tas dan mengeluarkan beberapa lembar tisu. “Ini, kamu lap wajahmu. Basah begitu, entah karena hujan atau karena keringat dingin ketakutan.” Laki-laki itu menerima tisu yang diulurkan tanpa kata. Kanya mematikan rokok dan membuang putung rokok di tempat sampah depan ruko. Ia mengelap jas dan roknya yang basah dengan tisu lalu berbalik menghadapi laki-laki di sampingnya. Ditaksir, usia laki-laki muda di depannya menginjak angka dua puluh tahunan. Dilihat dari penampilannya dengan kemeja lengan pendek dan tas ransel di belakang punggung, sepertinya dia mahasiswa. “Kamu kuliah?” tanyanya memastikan. “Iy—ya, Kak.” Laki-laki itu menjawab gugup. “Nggak pernah ngomong sama cewek sebelumnya?” “Hah?” “Gugup begitu? Laki-laki itu membuka mulut lalu mengatupkannya kembali. “Aku hanya gugup karena petir,” ucapnya lemah. “Ooh, jadi bukan karena berdekatan denganku?” Entah dapat pikiran dari mana dan seakan ingin menguji dirinya sendiri juga laki-laki muda di hadapannya, Kanya melangkah maju. “Ma—mau apa, Kak?” tanya laki-laki muda itu saat Kanya memepetnya ke dinding. “Nggak ada apa-apa, iseng aja. Kamu bilang bukan gugup karena aku tapi kok kelihatan takut?” “Itu karena, aku—,” “Siapa namamu?” “Aku?” Laki-laki muda itu menunjuk dirinya sendiri. “Iya, kamu. Siapa namamu?” “Arkananta Danadyaksa.” Kanya mengulurkan tangannya. “Ayo, kenalan. Kita sesama penghuni apartemen itu. Kenalkan aku Kanya. Hai, Arka.” Terlihat kikuk, Arka menyambut tangan Kanya dan menggenggam sejenak. Keduanya berdiri berhadapan dengan senyum simpul tak lepas dari mulut Kanya. Ia merasa jika laki-laki muda di hadapannya terlihat menarik dan imut. Dengan rambut hitam berponi yang menutupi jidat, tahi lalat di hidung mancungnya, Arka memang tampan. “Kamu menggemaskan,” puji Kanya. “Apa?” Telunjuk Kanya mengelus pelan dagu Arka dan berucap pelan. “Kamu menggemaskan untuk dicium.” Tawa kecil keluar dari mulut Kanya saat melihat Arka terperangah kaget. Ia membalikkan tubuh dan mengamati hujan yang mula reda. Menghitung jarak antara ruko tempatnya bernaung dan apartemen, akan lumayan basah jika ia memaksa untuk menerobos hujan sekarang. Namun, ia enggan menunggu lebih lama. Ia menoleh ke aras Arka. “Arka, ayo kita jalan.” “Sekarang?” tanya Arka tidak yakin. “Iya, sekarang! Mau sampai kapan kamu di sini?” Arka terlihat bimbang, antara mengikuti saran Kanya yang artinya menerobos gerimis atau tetap menunggu entah sampai kapan. Saat ia sedang menimbang pilihan, tangan wanita di depannya terulur dan meraih jemarinya. “Kebanyakan mikir kamu! Ayo jalan! Keburu ada petir lagi!” Akhirnya, dengan tangan mereka saling bergandengan, keduanya melangkah cepat menyeberangi jalan dan melintasi parkiran apartemen. Dalam hati Arka mengaggumi kemampuan Kanya dalam berjalan. Meski memakai sepatu hak tinggi, tapi langkah wanita itu terhitung cepat. Tiba di lobi, mereka disambut seorang security yang menunjuk keset untuk mengelap kaki. Setelah memastikan tidak ada kotoran di sepatu, keduanya melangkah beriringan menuju lift. Kanya menatap heran saat Arka tidak memencet tombol lift. “Kamu tinggal di gedung ini juga?” “Iya,” “Lantai berapa?” “Sepuluh.” “What, kita berada di lantai yang sama. Unit nomor berapa kamu? “10D.” “Wow,” ucap Kanya takjub. “Kita berjodoh sepertinya. Aku di unit 10E. Kamu baru pindah? Setahuku unit itu kosong beberapa bulan ini.” “Iya, baru seminggu.” “Sendiri atau sama keluarga?” Arka tidak menjawab, dalam lift dengan lampu yang menyorot terang, diam-diam ia mengamati penampilan Kanya. Ia menebak, umur wanita itu mendekati 30 tahun. Wajah mungil dengan riasan yang cukup tebal dan bibir yang dipoles lipstik merah menyala. Rambut wanita itu kecoklatan dan tergerai hingga ke punggung. Memakai jas dan rok pendek warna hitam. Kancing jas terbuka di bagian atas dan menampakkan belahan d**a yang menggoda. Seketika, ia memalingkan wajah. Merasa malu karena sudah mengamati diam-diam. “Sudah selesai?” tanya Kanya lembut. “Apanya? “Memandangiku. Bukannya dari tadi kamu menatapku nggak kedip?” Arka ternganga, belum sempat ia menjawab Kanya merengsek maju dan memepetnya ke dinding lift. “Jadi, bagian mana dari tubuhku yang menarik minatmu, Boy?” Aroma parfum menguar dari tubuh Kanya. Arka menelan ludah saat tubuh lembut wanita itu menempel pada tubuhnya. Perasaan aneh menyelimutinya dan ia mengepalkan tangan, untuk menahan diri. Kanya tersenyum dan menepuk pelan pipinya. “Kenapa pucat begitu? Kamu tegang karena aku?” Tanpa diduga wanita itu membelai lembut bibirnya. “Baru juga begini, Boy. Gimana kalau lihat yang lain. Iih, kamu memang menggemaskan.” Saat pintu lift berdentang terbuka, Arka merasakan kelegaan luar biasa. Ia melangkah menyusuri lorong dengan Kanya berada di depannya. Mereka berhenti di depan unit masing-masing yang ternyata bersebelahan. “Aku masuk dulu, Arka. Muach!” Melemparkan ciuman jarak jauh, Kanya menghilang ke balik pintu. Meninggalkan Arka yang tertegun di depan pintunya. Ia merasa hari ini sungguh aneh, dengan wanita yang tak kalah aneh yang menjadi tetangganya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.4K
bc

Kali kedua

read
220.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.0K
bc

TERNODA

read
200.6K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
81.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook