“Kalau aku sudah bayar selebgram mahal, kenapa masih ada yang bilang produkku abal-abal?” Omelan Kanya terus berlanjut setelah ia membaca komentar-komentar netizen di media social milik brand kosmetiknya.
Ruang kantor berukuran 5x5 meter itu terasa lengang. Seorang wanita duduk di depan komputer, fokus pada layar. Sesekali terdengar bunyi pesan masuk dari aplikasi yang terhubung. Di meja panjang, botol kaca, tube, dan plastik pembungkus berserakan. Dua wanita lain sibuk melakukan packing, tangan mereka bergerak cepat menyiapkan pesanan.
Di ruangan kecil di sampingnya, Kanya menunduk di atas catatan. Ia memeriksa laporan penjualan, menghitung pemasukan dengan teliti. Bulan ini, hasil penjualan skincare dan kosmetiknya cukup bagus. Ada peningkatan yang membuatnya sedikit lega. Ia menduga, promosi lewat selebgram yang ia bayar mahal memberi dampak besar.
Meski biaya iklan tinggi, hasilnya terlihat. Brand yang ia bangun mulai dikenal sebagai produk lokal yang digemari. Kanya merasa usahanya tidak sia-sia. Ia menimbang kemungkinan menambah pegawai, karena beban kerja semakin besar.
Kanya menutup catatan, menarik napas panjang. Ia tahu perjalanan masih panjang, tapi peningkatan penjualan memberi harapan. Di balik rasa lelah, ada semangat baru untuk terus mengembangkan bisnis yang ia bangun dari nol.
“Bu, ada Bu Angela.” Salah seorang pegawai mengetuk pintu kantornya.
Tanpa mendongak Kanya menjawab. “Suruh masuk!”
Tak lama, aroma parfum yang menyengat menyerbu penciumannya saat seorang wanita sebaya dengannya menyerbu masuk. Rambut wanita itu pendek setengkuk berpotongan asimentris dengan banyak warna. Kesan mewah dan modis, membuat wanita itu terlihat menawan.
“Aduh, Sayangku. Sibuuuk, ya?”
“Ehm ada apa siang-siang gini datang? Tumben?”
Angela mengenyakkan diri di depan Kanya. Mengamati sahabatnya yang menunduk di atas berlembar-lembar catatan.
“Hei, aku bawa berita yang menjengkelkan,” ucapnya pelan.
“Ape?”
“Si Buaya Darat, Anto Lubis menggaet bini baru. Sialan dia!”
Kali ini, Kanya mendongak dan menatap sahabatnya dengan prihati. Anto Lubis adalah mantan suami Angela. Laki-laki itu meski kaya raya tapi terkenal suka gonta-ganti wanita.
“Nggak ada akhlak banget tuh laki-laki. Dalam setahun ganti lima kali, gilaa!”
“Nah iya! Kamu setuju bukan kalau ini menjengkelkan.” Angela mendesah dramatis.
Kanya mengulum senyum, meletakkan pulpen yang ia pegang dan menatap sahabatnya. “Terus, kamu datang cuma mau curhat ini?”
“Oh, nggak. Aku datang mau ngajak kamu ke party. Malam Minggu ini di mansion milik Bobby Monti.”
“Party melulu, nggak ah?”
“Kamu harus datang, Kanya. Bobby Monti itu mitra bisnismu. Di sana bakalan ada si ular berbisa, siapa itu yang mantan mitra kamu dan menikung?”
“Sasha?”
“Yuup, benar. Aku dengar dia dapat gandengan baru buat danai produk kecantikan terbaru miliknya. Secara terang-terangan dan dengan senyum mengejek, dia mengundangmu. Kamu harus datang, Kanya.”
Kanya mendesah resah. Ia tidak suka terlibat pertikaian secara terbuka, apalagi dengan seseorang yang pernah dekat dengannya. Dulu, ia dan Sasha bersahabat. Mereka bahkan sempat bekerja sama membuka usaha skincare dengan brand sendiri. Namun, hubungan itu berakhir buruk. Sasha berkhianat dan kini menjadi lawan yang harus dihadapi.
Sejak saat itu, persaingan mereka berlangsung terbuka. Tidak ada lagi basa-basi atau pura-pura. Kanya dan Sasha sama-sama menunjukkan kebencian tanpa menutupinya, menjadikan hubungan mereka berubah total dari sahabat menjadi musuh.
“Kamu harus datang, Kanya. Jangan lupa bawa patner.”
“Hah, mau bawa siapa aku? Kamu tahu sendiri aku lagi nggak dekat sama siapa pun.”
Angela mengernyit, menatap sahabatnya. “Gimana kalau sama Fadli?”
Fadli adalah sahabat SMA mereka yang sampai sekarang masih sering bertukar sapa. “Hah, gila apa? Suami orang diaa!”
“Oh, ya, Tapi dia naksir kamu.”
“Bodo amat! Biarpun kaya raya, siapa yang mau dijadiin istri ketiga, idih geli.”
“Kalau pengacara dari kantor sebelah bagaimana? Raphael?”
Kanya menyilangkan kedua tangannya depan d**a. “No way, aku cuma ingin hubungan yang professional saja sama dia. Nggak lebih.”
“Tapi, mereka nggak gitu sama kamu. Jelas-jelas Antonuis itu naksir kamu.”
“Ah, biarin aja. Suka-suka mereka. Jadi, kenapa aku harus datang ke party itu?”
Angela mencondongkan tubuh dan berucap pelan. “Mereka mengundang artis pendatang baru yang lain naik daun, Rachelia. Bukannya kamu bidik dia buat jadi artis endorsmu?”
“Wow, iyakah?”
“Yuup, makanya kamu harus datang. Nggak pakai tapi-tapian. Syukur kalau ada patner, nggak ada ya sudah datang sendiri. Kita ketemu di sana.”
Sepeninggal Angela, Kanya duduk termenung di ruangannya. Tatapannya kosong ke arah langit-langit, pikirannya penuh dengan rasa kesal. Ia merasa muak harus berhadapan dengan Sasha, namun ia tahu tidak bisa mundur. Harga dirinya dipertaruhkan, dan itu cukup untuk membuatnya bertekad hadir di party, meski seorang diri.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan rutinitas kantor. Kesibukan membuat Kanya hampir melupakan rencana itu. Ia tenggelam dalam pekerjaan, menunda segala hal yang tidak mendesak. Hingga Sabtu siang, Angela menelepon, mengingatkan tentang party yang sudah di depan mata.
Kanya menutup telepon dengan perasaan campur aduk. Kantornya hanya buka setengah hari, jadi pukul tiga sore ia sudah di rumah. Di kamar, ia membuka lemari, menatap deretan gaun yang tergantung. Tangannya menyentuh satu per satu, mencoba membayangkan mana yang paling tepat untuk malam itu.
Pukul 7.30 malam, ia udah siap pergi berpesta dengan memakai gaun tanpa lengan warna kuning. Gaun itu berlengan kecil dengan bagian belakang terbuka dan menampakkan punggungnya yang putih. Kanya berdecak puas denga penampilannya dan bersiap pergi.
Saat mengunci pintu, ia kaget mendapati Arka yang sepertinya juga hendak keluar. Ia tersenyum dan menyapa pemuda itu.
“Hai, mau malam Mingguan?”
Arka menatapnya sekilas lalu menggeleng. “Nggak, mau cari makan,”
“Hah, emangnya nggak pergi jalan-jalan weekend gini?”
Mereka berdiri berdampingan di depan pintu lift. “Mau sama siapa? Nggak ada teman juga.”
“Pacar?”
“Nggak ada.”
Lift terbuka, keduanya masuk bersamaa. Arka mengamati penampilan Kanya yang glamour dan menawan.
“Kakak cantik sekali. Mau ke pesta, ya.”
“Iya, mau ikut?” tanya Kanya tiba-tiba.
“Eh, aku belum pernah ke pesta.”
Jawaban Arka membuat Kanya menoleh pada pemuda itu. Ia mengamati penampilan Arka dalam balutan celana jeans dan kemeja hitam lengan panjang. Sepertinya, Arka adalah tipe orang yagg serius dan rapi.
“Ikut aku, mau?”
“Ke mana?” tanya Arka bingung.
“Party, yuuk!”
“Tapi, aku nggak pernah ke tempat kayak gituan sebelumnya.”
“Kayak gituan gimana. Ini hanya party biasa. Yuuk, ah. Banyak omong.”
Tidak memedulikan penolakan Arka, Kanya meraih tangan pemuda itu dan menyeretnya menuju parkiran mobil. Ia membuka pintu dan memaksa Arka duduk di sampingnya, sementara ia memegang kemudi.
“Kak, aku beneran belum pernah datang ke pesta atau apa pun itu. Takut bikin malu.”
Kanya memakai sabuk pengaman dan mengerling, lalu mencondongkan tubuh ke arah Arka.
“Kamu diam saja, jadi cowok yang manis temani aku. Kalau kamu masih merengek begitu, nanti aku cium kamu.”
Arka tercengang lalu menutup mulutnya. Kanya tidak dapat menyembunyikan senyumannya. Ia melajukan mobil ke arah jalan raya dengan hati bersenandung riang, bersama pemuda tampan yang duduk kaku di sampingnya.