BAB 3

1182 Kata
“Aku tidak pernah nyaman di pesta seperti ini, Kak. Kenapa kamu paksa aku ikut?” Arka terus begerak gelisah sejak turun dari mobil dan terperangkap dalam gandengan tangan Kanya. Arka terkesiap, menatap jalannya pesta yang meriah. Banyak tamu bertebaran di sekitar rumah, bahkan nyaris tumpah ruah di halaman. Ia yang tidak pernah datang ke pesta yang seperti ini sebelumnya, hanya dibuat terpana. Menurut pasrah, saat tangan Kanya menggenggam dan membawanya menerobos kerumunan untuk menemui sang tuan rumah. “Hai, Bobby!” Kanya menyapa riang pada seorang laki-laki yang sebaya dengannya. Laki-laki itu memakai tuxedo merah muda dengan kemeja putih dan mawar merah menyembul di sakunya. Penampilannya membuat Arka mengernyit. “Aih, datang juga kamu. Kabar baik, Sayang?” Bobby Monti membalas sapaan Kanya dengan ramah. “Aku pikir nggak mau datang kamu.” “Wow, pesta di tempat Bobby yang terkenal dan aku nggak datang? Rugiii amaat!” Kanya tertawa renyah. “Kamu harusnya bilang mau datang, biar aku jemput.” Tanpa malu-malu, Bobby Monti mengelus lembut lengan Kanya dan membuat wanita itu berjengit. “Aku bawa teman.” Kanya meraih pundak Arka dan mengenalkannya dengan Aldio Taher. “Kenalin, cowok baruku. Arka namanya.” Bobby Monti tidak dapat menutupi kekagetannya saat melihat Arka. Pandanganya matanya seakan menyapu pemuda itu dari atas ke bawah. “Makhluk Tuhan paling tampan. Dapat dari mana kamu brondong tampan seperti ini?” Tanpa malu-malu Bobby Monti menggenggam tangan Arka, dan berucap dengan perkataan mendayu. “Hai, Tampan. Mau temani aku malam ini?” Saat laki-laki itu mengedip sebelah mata ke arahnya, Arka menahan diri untuk tidak muntah. “Eits, jangan doong! Dia punyaku.” Kanya tertawa renyah dan merangkul pundak Arka. “Huft, dari dulu kamu selalu ngalahin aku buat dapetin cowok cakep,” gerutu Bobby Monti. “Kamu nggak mau sama aku. Kini malah dapat brondong manis gitu. Tega kamu.” Kanya meleletkan lidah. “Ya, iyalah. Semua tergantung pesona kita.” “Ciih, sombong!” Tertawa sekali Iagi, Kanya meraih tangan Arka dan membawanya ke pinggir halaman. Ia memiringkan wajah, menatap pemuda yang sedari tadi terdiam dan bertanya. “Kenapa? Grogi, ya?” Tanpa sungkan Arka mengangguk. “Memang kamu bergaul sama siapa, sih? Ketemu banyak orang jadi grogi.” “Nggak ada, di kampung hanya sama Nenek.” “Oh, pantas. Pernah minum alkohol?” Kali ini Arka menggeleng lemah. Menatap Kanya malu-malu. “Ya Tuhan, cowok langka kamuuu. Minum nggak, pesta nggak. Brondong ajaib.” Kanya tertawa sambil mencolek dagu Arka dan membuat pemuda itu tersipu. “Ayo, kita ambil makanan. Sambil lihat teman-temanku yang lain.” Bergandengan tangan, Arka dibawa berkeliling oleh Kanya. Ia hanya mengagumi dalam diam, orang-orang yang ada di pesta dengan penampilan eksentrik mereka. Makanan dan minuman tumpah ruah di meja prasmanan. Secara khusus Kanya menunjukkan padanya minuman yang tidak boleh disentuh karena mengandung alkohol. Ia mangut-mangut, membiarkan dirinya diajak membaur dalam kerumuman. Dengung percakapan, tawa, ditimpali oleh musik dari sekelompok band di pojokan taman. Sebagian tamu mengobrol, makan, tapi banyak juga yang menari di tengah taman, dekat kolam renang. Kanya mengoyang tubuhnya sambil merangkul pundak Arka dan sesekali menyolek dagu pemuda itu. “Ah, Kanya. Berani datang juga kamu.” Kanya menghentikan gerakannya saat terdengar sapaan dari balik punggung. Ia menoleh dan melihat Wanita bergaun hitam dengan rambut hitam panjang sampai punggung. Wanita itu tersenyum dengan bibir dipoles lipstik merah darah. Sekilas, penampilannya terlihat mirip ratu ilmu hitam di film-film horor. “Sasha.” Sapa Kanya tak kalah ramah. “Wah, tebal juga mukamu? Bermasalah tapi berani menunjukkan diri di depan umum?” Sasha berucap sambil bersedekap. Tersenyum kecil, Kanya mengibaskan rambut ke belakang. Menatap wanita cantik yang memancarkan kedengkian untuknya. “Iya dong. Kenapa aku harus takut? Keputusan pengadilan udah jelas kalau aku nggak salah. Tuntutan kamu nggak pada tempatnya.” “Jangan lupa, aku naik banding!” “Oh, silakan. Kita lihat sejauh mana kamu mau bertindak buat buang-buang uang. Ah, denger-dengar dapat bandot tua buat nyokong keuangan kamu? Selamat, yaaa.” Wajah Sasha menggelap, ia melotot ke arah Kanya yang tersenyum. Lalu, mengalihkan pandangan pada Arka yang sedari tadi terdiam. “Siapa dia? Mainan baru?” “Partner in crime.” Kanya menepuk lengan Arka dengan bangga. “Gitu, turun juga seleramu. Bukannya kamu tidur sama pengacarmu sebagai kompensasi uang pembayaran?” Pernyataan Sasha yang penuh kebencian membuat Kanya geregetan. Ia maju selangkah, menatap wanita yang dulu pernah menjadi sahabatnya. Ingatan Kanya berkelebat. Masa ketika mereka merintis karir bersama, mencari nama brand, dan berbagi mimpi. Semua itu kini terasa jauh. Keserakahan mengubah segalanya. Sasha berkhianat, bahkan tega menggugat Kanya ke pengadilan. Tuduhan ingkar janji menjadi senjata untuk menjatuhkannya. Kanya menahan emosi. Ia tahu pertarungan ini bukan sekadar bisnis, melainkan harga diri. Hubungan yang dulu hangat kini berganti menjadi permusuhan terbuka. “Tahu nggak apa yang salah sama kamu, Sasha? Cantik, muda, menggairahkan. Sayangnya Kanya menunjuk pelipisnya. “Nggak punya otak! Mestinya orang tuamu dulu dikasih tahu pas bikin kamu. Naruh otak tuh, di kepala. Bukan didengkul!” “b******k!” Sasha berteriak marah. Tangannya terulur untuk mencakar. “Kenapa? Mau mencakarku? Ayo, biar aku tuntut kamu. Aku tahu sebenarnya kenapa kamu menggugatku. Bukan semata-mata karena uang tapi karena Bobby Monti, kan?” Arka yang melihat keadaan memanas, menengahi dengan berdiri di antara kedua wanita yang siap untuk cakar-cakaran. Ia memunggungi Sasha dan berdiri menghadap Kanya. “Tenang, Kak. Tahan diri, ingat ini di mana?” Wajah Kanya memerah, napasnya memburu. Bicara dengan Sasha selalu membuat emosinya naik. Jika bukan karena harga diri, ia tidak akan sudi bertemu wanita ular ini. “Minggir, Arka. Aku nggak apa-apa. Tenang.” “Nanti berantem.” “Nggak, aku janji. Kalau sampai tanganku melayang mau mukul dia. Ingat, yang kamu lakukan adalah menggotongku keluar dari sini!” Setelah ragu-ragu sejenak, Arka minggir dan membiarkan Kanya kembali berhadapan dengan Sasha. Ia menatap keduanya dengan kuatir, berharap tidak ada adegan cakar-cakaran atau baku hantam. Terus terang, ia tidak tahu bagaimana memisahkan wanita yang sedang bertengkar. Kanya berdehem sejenak lalu tersenyum. “Sasha, kita jangan bertengkar di sini. Dari pada buang-buang tenaga untuk saling pukul. Mending kamu atur strategi buat ngalahin aku di pengadilan.” “Cuih, kamu pikir aku takut?” jawab Sasha sambil bersedekap. “Oh, kamu nggak takut pastinya. Banyak duit.” Kanya menyambar lengan Arka dan bersiap pergi. “Kami pergi dulu, Sasha. Pesta seperti ini harus dinikmati sambil bercinta dengan orang tampan. Bukan bertengkar sama kamu. Bye!” Tidak mengindahkan wajah Sasha yang memerah dan mata melotot, Kanya menarik tangan Arka. Ia menyeretnya masuk ke tengah kerumunan orang yang sedang menari. Dengan gerakan asal, Kanya melompat-lompat mengikuti irama musik. Rasa kesal yang menumpuk ia lepaskan begitu saja. Arka hanya berdiri mematung, menatap tingkah Kanya dengan bingung. Ia tidak tahu harus ikut bergerak atau tetap diam, sementara Kanya terus menari tanpa peduli. “Kamu pasti kaget lihat aku nyaris baku hantam sama wanita itu!” ucap Kanya sambil menari. “Sedikit, apalagi kalian kayaknya saling kenal.” “Memang, kami mitra dulu. Sampai akhirnya dia menggugatku karen ingin menguasai brand kami sepenuhnya. Serakah!” “Kak, kamu nari apa lompat? Nanti jatuh,” tegur Arka kuatir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN