Pagi di Jakarta Selatan terasa lebih lembut dari biasanya. Hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang samar-samar masuk lewat jendela kamar. Di apartemen mungil mereka, suara air dari teko listrik dan aroma kopi hitam mengisi udara. Rafka baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk melingkar di leher. Ia tampak lebih santai dari biasanya — tidak dengan jas kerja dan wajah serius — hanya kaus abu-abu dan celana pendek. Tapi matanya… masih tajam, seperti biasa. Sementara itu, Anggita duduk di sofa, sibuk menggulung rambutnya yang masih acak-acakan sambil menonton acara pagi di TV. Daster biru muda yang ia pakai tampak sedikit kebesaran, membuatnya terlihat makin manja. “Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Rafka sambil mengambil gelas dari rak. “Enggak, aku cu

