Langit sore meredup dengan cepat, seolah ikut merasakan kesedihan rumah Yunglow yang kini dipenuhi keheningan. Setelah pemakaman ibu Sherina, hanya suara angin lembut dan desir dedaunan yang terdengar—tetapi keheningan itu bukan ketenangan. Itu adalah kesunyian yang menusuk tulang, mengisi setiap sudut hati Sherina yang sedang patah. Sherina duduk di ruang tengah yang temaram, memeluk selimut tipis sambil memandang ke luar jendela. Matanya bengkak, merah, dan lelah. Nafasnya berat, seperti setiap helaan pun membutuhkan keberanian. Di pangkuannya, ada foto lama ibunya. Ibu tersenyum di sana. Senyum hangat yang dulu menjadi rumahnya. Kini tinggal kenangan kosong yang tak bisa disentuh. Sherina menelusuri wajah ibunya dengan jemari gemetar. "Maafin Sherin, Bu..." bisiknya lirih. “Maafin

