Malam turun perlahan di fasilitas kediaman Yunglow. Lampu-lampu taman menyala lembut, menemani suara ombak yang menghantam pantai di kejauhan. Dari jendela kamar pemulihan Dominick, langit tampak bersih untuk pertama kalinya setelah berhari-hari dihujani badai. Sherina duduk di sisi ranjang, memegang tangan sang suami yang masih lemah tetapi hangat. Dominick memejamkan mata sejenak, meresapi kehadiran wanita yang menyelamatkannya dari jurang kematian—dan kegilaan. Setelah beberapa menit keheningan, dia membuka mata pelan. "Sherin..." suaranya pecah, terbata-bata, seperti baru belajar berbicara lagi. "Aku takut... kalau ini hanya mimpi." Sherina tersenyum kecil, meski matanya sudah berkaca-kaca. Dia mengusap rambut sang suami yang masih kusut dan basah oleh keringat. "Tidak, ini bukan

