Elara membuka mata perlahan, cahaya pagi yang lembut menyelinap lewat tirai sutra di kamar yang masih asing baginya. Aroma Robert, campuran kayu sandalwood dan sesuatu yang maskulin masih melekat di bantal. Elara memutar tubuh, tangannya meraba tempat di sebelahnya yang sudah kosong, hanya tersisa lekukan dan sisa kehangatan. "Malam tadi …." Senyuman mengembang di bibirnya sebelum rasa bersalah yang kecil itu kembali menyelinap. Mereka hampir saja melakukan aksi panas. Nafsu yang menggelora, sentuhan yang membakar, erangan yang saling menjawab. Di saat tubuh mereka sudah hampir lebur, di detik di mana batas hampir sirna, Elara-lah yang menarik mundur. Napasnya tersengal dengan wajah memerah. “Robert, tunggu ….” Pria itu langsung berhenti, kekuatan dan keinginannya yang jelas terlihat t

