Saat Elara baru saja menginjakan kaki di pelataran rumah Dinas Hugoâpaman Robert, panggilan dari Edward sang ayah masuk ke polselnya. Elara menyempatkan diri untuk mengangkat panggilan. "Halo, Pa." "Ela, Bagaimana kabarmu, Nak? Media ramai sekali. Maaf, ayah ada pekerjaan penting jadi kemarin saat di pertengahan lomba aku terpaksa pergi." Mendadak, nada antusias Edward berubah isakan. "Iya tak apa, Pa. Tapi, kau kenapa menangis?" "Ah, aku hanya terharu dan bangga. Selamat karena kau telah memenangkan kompetisi dan Robert melamarmu. Sayangnga, aku tidak bisa menjadi saksi cinta kalian meyatu." Elara tersenyum sipu sejenak dan mengaku bahwa aksi lamaran Robert di luar dugaannya juga. "Terima kasih, Papa. Kau selalu mendukungku selama ini." "Pasti, Nak. Jika Robert tidak sibuk, undan

