Sepanjang perjalanan di dalam mobil yang meluncur mulus di jalanan kota, tangan Robert tak lepas menggenggam tangan Elara. Sentuhannya hangat seakan penuh kepastian. Sebuah kontras yang menyejukkan dari genggaman dingin masa lalu Elara. Robert menoleh sesekali, matanya yang biasanya penuh kalkulasi politik kini lembut memandangi wanita di sampingnya. “Aku masih tak percaya,” bisiknya dengan suara bariton khas. “Di tengah semua hiruk-pikuk kampanye yang melelahkan ini, Semesta mengirimkanmu padaku. Kau adalah keberuntungan terbesarku, Elara. Keberuntungan yang datang di waktu yang tepat .” Elara tersenyum sembari menekan pelan tangan Robert. Tak hanya tangan, hatinya juga terasa hangat. “Kau terlalu berlebihan. Aku hanya wanita biasa, Rob.” “Tidak,” bantah Robert lembut dengan segera. “

