"Ehem. Kekasih kontrak, ya? Kontraknya sudah termasuk klausul pertautan bibir juga, kah?" Tanpa Elara dan Robert sadari, Asher sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan tangan bersandar di kusen serta senyum lebar dan mata penuh trik. Suaranya bernada antusias menggoda momen intim sang kakak dan Elara. Dalam sekejap, pertautan bibir Robert dan Elara terpisah bagai tersengat listrik. Wajah Elara yang tadi lembut, berubah pucat lalu memerah padam. Malu, panik dan rasa bersalah yang tak jelas membanjiri matanya. "Ekhem, hai Asher." Setelah menyapa singkat, Elara berbalik panik sembari tangannya gemetar mengambil piring berisi hidangan utama, seolah-olah benda itu adalah penyelamatnya. "Makan malam ... harus dihidangkan, permisi. " Elara bergegas keluar dapur, meninggalkan Robert dan A

