“Apa yang perlu kita bicarakan, Ral?” tanya Noe saat sudah berdua saja dengan Raline, tetapi wanita itu terus bungkam. Saat ini keduanya tengah duduk bersama di taman belakang, dekat kolam renang, di bagian teduh yang terlindung dari teriknya matahari. Namun, kalau biasanya hati Raline terasa damai menikmati pemandangan di taman belakang rumahnya, kali ini tidak. Ia resah luar biasa, canggung, juga kebingungan. Intinya, Raline serba salah. Ingin rasanya ia kabur saja mencari Kyna, lalu mendekap putrinya erat-erat untuk mencari ketenangan dalam aroma khas balita mungil itu. “Ral …, kenapa diam saja?” tegur Noe lagi karena Raline masih terlihat belum bersedia membuka mulutnya. Raline menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya demikian kuat. “Aku bingung harus mulai bicara dari m

