bc

"Di Balik Silabus Cinta"

book_age18+
7
IKUTI
1K
BACA
forbidden
HE
teacherxstudent
age gap
kickass heroine
single mother
blue collar
drama
bxg
serious
campus
city
cruel
professor
like
intro-logo
Uraian

"Alaia Rasendriya, mahasiswi tingkat akhir Sastra yang keras kepala dan idealis, tidak pernah menyangka bahwa kritik pedasnya terhadap sebuah jurnal ilmiah di sidang proposal akan membawanya berhadapan langsung dengan penulis jurnal itu sendiri, Dr. Radenta Wirasena, dosen muda yang dingin, disiplin, dan baru saja ditunjuk sebagai pembimbing skripsinya.Di balik ketegangan profesional yang terus memanas, keduanya perlahan menemukan kehangatan yang tak pernah mereka duga. Namun aturan kampus tegas melarang hubungan dosen dan mahasiswa, dan Radenta ko menyimpan luka lama dari skandal yang pernah menghancurkan karier mentornya sendiri, membuatnya bersumpah untuk tidak pernah melewati batas itu.Ketika rasa yang tumbuh diam diam mulai sulit disangkal, dan ancaman dari dalam kampus mengintai untuk membongkar semuanya, Alaia dan Radenta harus memilih. Menyerah pada aturan demi keselamatan karier dan masa depan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang dianggap terlarang oleh dunia di sekitar mereka."

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1: Kritik yang Salah Alamat
Ruang sidang proposal Fakultas Sastra pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Alaia Rasendriya duduk di kursi kayu yang berderit setiap kali ia bergerak, menggenggam map berisi lembar proposal yang sudah lecek di ujungnya karena terlalu sering dibaca ulang semalaman. Ia terlambat tujuh menit. Bukan salahnya sepenuhnya, angkot yang biasa ia naiki mogok di tengah jalan, dan ia harus berlari dari gerbang kampus sambil menenteng tas ransel yang isinya lebih berat dari biasanya. Napasnya masih memburu ketika ia duduk di kursi peserta sidang, tepat di hadapan tiga dosen penguji yang menatapnya dengan ekspresi datar. "Silakan mulai presentasinya, Saudari Alaia," ujar salah satu dosen sambil melirik jam tangannya. Alaia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu. Ia berdiri, membuka laptop yang sudah tersambung ke proyektor, dan mulai memaparkan rencana penelitiannya tentang representasi perempuan dalam sastra klasik Indonesia era sebelum kemerdekaan. Semua berjalan lancar untuk lima belas menit pertama. Alaia berbicara dengan lancar, argumennya runtut, dan ia bahkan sempat melihat anggukan kecil dari salah satu penguji. Namun semuanya berubah ketika sesi tanya jawab dimulai. "Kamu menggunakan jurnal karya Radenta Wirasena sebagai salah satu rujukan utama," kata dosen penguji kedua sambil menunjuk salah satu slide. "Bagaimana pendapatmu tentang metodologi yang digunakan dalam jurnal tersebut?" Alaia tidak menyadari bahaya di balik pertanyaan itu. Ia justru merasa ini kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia sudah membaca jurnal itu dengan kritis, bukan sekadar mengutip tanpa memahami isinya. "Jujur saja, Bu," jawab Alaia dengan percaya diri, "menurut saya metodologi dalam jurnal itu agak lemah dari sisi analisis kontekstual. Penulisnya terlalu terpaku pada pendekatan tekstual murni tanpa mempertimbangkan konteks sosial dan politik pada masa itu. Ada beberapa klaim yang menurut saya terkesan gegabah, seolah penulisnya belum benar benar memahami situasi historis yang melatarbelakangi karya karya yang ia teliti." Ruangan mendadak sunyi. Alaia melanjutkan tanpa menyadari perubahan suasana itu, semakin bersemangat mengkritik detail demi detail dari jurnal yang ia maksud, mulai dari struktur argumen yang menurutnya terlalu kaku, hingga kesimpulan yang ia anggap terburu buru dan kurang didukung data yang memadai. "Bahkan menurut saya," lanjutnya, "penulis jurnal itu sepertinya lebih fokus pada gaya penulisan akademik yang terkesan pintar, daripada benar benar menggali makna yang lebih dalam. Terasa seperti karya yang dibuat untuk mengesankan orang, bukan untuk benar benar memberi kontribusi baru." Salah satu dosen penguji berdeham keras, mencoba memberi isyarat, tapi Alaia yang sedang bersemangat tidak menangkapnya. Ia baru berhenti bicara ketika pintu ruang sidang terbuka pelan, dan seorang pria berjalan masuk dengan langkah tenang namun tegas. Pria itu mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi, dipadukan dengan celana kain berwarna gelap. Rambutnya disisir ke belakang dengan rapi, dan wajahnya memancarkan ketenangan yang justru terasa mengintimidasi. Ia membawa map cokelat di tangan kirinya, dan langsung duduk di kursi kosong di ujung meja penguji tanpa berkata apa apa. Alaia menghentikan kalimatnya di tengah jalan, menatap pria itu sekilas sebelum kembali fokus pada penguji yang tadi bertanya. Ia mengira pria itu hanya dosen lain yang datang terlambat untuk urusan administratif, jadi ia melanjutkan presentasinya seolah tidak terjadi apa apa. "Jadi kesimpulannya," Alaia menutup argumennya, "saya rasa penelitian saya akan jauh lebih kuat karena saya akan menggunakan pendekatan yang lebih kontekstual dan tidak hanya berhenti pada analisis permukaan seperti yang saya sebutkan tadi." Dosen penguji pertama menatap pria yang baru datang itu dengan ekspresi yang sulit dibaca, seolah meminta izin untuk melanjutkan atau berhenti. Pria itu hanya mengangguk kecil, memberi isyarat agar sidang dilanjutkan seperti biasa. Setelah sidang berakhir, dan Alaia merasa cukup puas dengan penampilannya meski masih diliputi rasa lelah, ia berjalan keluar ruangan sambil merapikan berkas berkasnya. Kirana, sahabatnya yang sudah menunggu di luar sejak tadi, langsung menghampirinya dengan wajah penuh rasa penasaran. "Gimana? Lancar?" tanya Kirana sambil merangkul lengan Alaia. "Lumayan," jawab Alaia sambil tersenyum lega. "Tapi tadi aku sempat ngritik jurnal orang habis habisan di depan penguji. Semoga aja penulisnya nggak pernah baca skripsiku nanti." Kirana tertawa kecil. "Siapa memangnya yang kamu kritik?" "Radenta Wirasena," jawab Alaia sambil mengangkat bahu. "Aku nggak kenal orangnya sih, cuma baca jurnalnya doang. Tapi menurutku analisisnya kurang dalam." Sebelum Kirana sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat dari belakang mereka. Alaia menoleh dan mendapati pria yang tadi masuk ke ruang sidang berdiri beberapa langkah darinya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, antara datar dan menahan sesuatu. "Saudari Alaia Rasendriya?" tanya pria itu dengan suara berat dan tenang. Alaia mengangguk, sedikit bingung. "Iya, saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Pria itu tersenyum tipis, senyum yang entah kenapa membuat Alaia merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan di baliknya. "Perkenalkan," ujarnya sambil mengulurkan tangan, "saya Dr. Radenta Wirasena. Mulai hari ini, saya yang akan menjadi dosen pembimbing skripsi Anda." Waktu seolah berhenti sejenak. Alaia merasa seluruh darah di tubuhnya turun ke ujung kaki. Ia menatap pria di hadapannya dengan mata terbelalak, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar, sementara di sampingnya, Kirana sudah menutup mulutnya sendiri menahan tawa yang setengah mati ia tahan. Alaia membuka mulut, mencoba mencari kata kata yang tepat untuk menjawab, tapi tidak ada satu pun kalimat yang berhasil keluar. Ia hanya bisa berdiri di sana, menatap tangan yang masih terulur di hadapannya, sementara di kepalanya berputar ulang setiap kata pedas yang baru saja ia lontarkan tanpa tahu bahwa pemiliknya sedang duduk mendengarkan di ruangan yang sama. "Sepertinya," lanjut Radenta dengan nada yang tetap tenang namun menyimpan sesuatu yang tajam, "kita punya banyak hal untuk didiskusikan di pertemuan bimbingan pertama kita nanti." Ia menurunkan tangannya perlahan ketika menyadari Alaia tidak kunjung menyambutnya, lalu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat ia datang, meninggalkan Alaia yang masih berdiri mematung di tengah koridor, dengan wajah yang perlahan berubah merah padam karena rasa malu yang menjalar hingga ke telinga. Kirana akhirnya tidak bisa menahan tawanya lagi. "Alaia," katanya di sela sela tawa, "kayaknya semester ini bakal jadi semester paling menarik dalam hidupmu." Alaia hanya bisa menghela napas panjang, menatap punggung Radenta yang semakin menjauh di ujung koridor, sambil bertanya tanya dalam hati bagaimana caranya ia harus menghadapi dosen pembimbing yang baru saja ia kritik habis habisan tanpa ampun, tanpa tahu bahwa dari titik ini, hidupnya akan berubah jauh lebih rumit daripada sekadar urusan skripsi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.6K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.7K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.2K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
5.5K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
167.9K
bc

Terjerat Hasrat Suami Pengganti

read
170.5K
bc

Ana, My Pearl

read
170.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook