Mereka duduk di salah satu bangku kayu panjang di sudut Alun-Alun, di bawah temaram lampu kota dan kepulan asap wedang ronde yang menyegarkan. Praditya baru saja menyuapkan satu butir cenil ke mulutnya—mengecap rasa manis gula merah yang pekat—saat ponsel di saku mantelnya bergetar kuat. Ia merogoh ponselnya, dan nama "Ayah" tertera jelas di layar. Amindita yang sedang meniup kuah rondenya seketika berhenti. Matanya yang bulat menatap layar ponsel itu dengan gurat kecemasan yang tak bisa disembunyikan. Trauma akan penolakan keluarga Ararya masih membekas kuat di benaknya. Melihat kegelisahan istrinya, Praditya segera menggapai tangan Amindita di atas meja. Ia menggenggam jemari mungil itu, lalu mengelusnya perlahan dengan ibu jari, memberikan ketenangan sebelum menekan tombol hijau. "Ya

