Pagi di Kota Batu disambut dengan kabut tipis yang menyelimuti lereng Gunung Panderman. Suasana hening hanya dipecahkan oleh suara kokok ayam dan gemericik air pegunungan yang jernih. Di teras belakang, Pak Broto sudah rapi dengan celana kain tebal, kaos oblong yang mulai pudar warnanya, serta topi caping yang tersampir di punggung. Praditya, yang biasanya pada jam segini sudah duduk di balik meja kerja dengan setelan jas custom-made, keluar dengan wajah segar setelah mandi. Ia mengernyit melihat sang ayah mertua sudah memanggul cangkul kecil dan membawa beberapa kantong bibit. "Ayah sudah mau berangkat?" tanya Praditya, langkahnya mendekat dengan penuh rasa ingin tahu. Pak Broto menoleh, tersenyum melihat menantunya. "Iya, Prad. Kalau kesiangan sedikit, mataharinya sudah panas nyengat.

