29

1337 Kata

Makan siang di restoran privat milik keluarga Aryasatya itu berlangsung dengan suasana yang jauh lebih santai. Aroma panggangan daging premium dan denting alat makan perak menemani obrolan ringan yang sesekali diselingi tawa renyah Dialta dan juga Praditya. Di meja itu, Amindita mulai merasa sedikit lebih rileks, meski rasa pegal di pinggangnya masih sesekali mengingatkan pada kejadian semalam. Apalagi ketambahan dengan mempersiapkan bahan presentasi yang akan didiskusikan. Sena, yang duduk tepat di samping Amindita, tampak sangat bersemangat. "Pokoknya, setelah ini tidak ada alasan ya, Dita. Kau harus mampir ke butikku. Aku punya koleksi silk dress terbaru yang warnanya akan sangat cantik di kulitmu yang... well, sangat bening ini," goda Sena sembari mengerling nakal. Amindita tertaw

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN